Articles

Found 38 Documents
Search

ESTIMATING CONTRIBUTION OFZOOXANTHELLAE TO ANIMAL RESPIRATION (CZAR) AND TO ANIMAL GROWTH (CZAG) OF GIANT CLAM Tridacna maxima

JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 9, No 3 (2006): Volume 9, Number 3, Year 2006
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.204 KB)

Abstract

Zooxanthellae are symbiotic dinoflagellate algae which live in association with marine invertebratesincluding giant clams. These algae are capable of translocating part of their photosynthetic products tothe host. This translocation is one of the nutrition sources of the host. The present study aims tocalculate the contribution of zooxanthellae on the energy requirements of adult giant clam (Tridacnamaxima) during their respiration and growth processes. The result showed that zooxanthellae arecapable of contributing 260.67% and 452.54% energy required by giant clams for respiration andgrowth during summer and 171.51% and 273.51 % during winter, respectively. It suggests that all theenergy required for these two processes can be supplied by zooxanthellae. 

Kandungan Asam Lemak Omega-3 (Asam Linolenat) pada Kerang Totok Polymesoda erosa yang diberiPakan Tetraselmis chuii dan Skeletonemacostatum

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.415 KB)

Abstract

Percobaan ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh pemberian pakan alami Tetraselmischuii dan Skeletonema costatum terhadap kandungan asam lemak omega-3 (asam linolenat) pada kerang Totok Pofymesoda erosa. Kerang Totok yang digunakan berukuran 5-6 cm berasal dari perairan P. Gombol, Segara Anakan, Cilacap. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah pakan alami (A) dengan 3 perlakuan yaitu T. chuii dengan konsentrasi 45x Iff sel/ml(Al); S. costatum dengan konsentrasi 45 x Iff sel/ml (AZ); dan kombinasi dari kedua pakan tersebut dengan konsentrasi 22.5 x iff sel/ml T. chuii: 22.5 x Iff sel/ml S. costatum (A3). Faktor kedua yaitu periode waktu sampling (T) terdiri dari 2, 4, 6, dan 8 hari. Metode Gas Liquid Chromatography (GLC) digunakan untuk menentukan kandungan asam lemak omega-3. Semua datayang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Anova dua jalur dengan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, jenis pakan alami berpengaruh nyata terhadap kandungan asam lemak omega-3 (asam linolenat) (Ftest= 5.409; p= 0.012). Sedangkan waktu periode sampling tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan asam lemak linolenat pada kerang Totok P. erosa (F test= 0.795 ; p= 0.509). Perlakuan pakan alami dan waktu periode sampling memberikan pengaruh secara bersama terhadap kandungan asam lemak linolenat kerang Totok P. erosa (F test= 3.535; p= 0.012). Disimpulkan bahwa kualitas pakan, sifat dan komponen dinding sel penyusun kedua pakan alami tersebut diduga berpengaruh terhadap kandungan asam lemak linolenat pada kerang Totok P. erosa.Kata kunct: Kerang Totok Pofymesoda erosa, Tetraselmis chuii, Skeletonema costatum. Asam lemak linolenat.

Abundance of Tridacna (Family Tridacnidae) at Seribu Islands and Manado Waters, Indonesia

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.428 KB)

Abstract

Kima, yang merupakan salah satu hewan laut dilindungi, sejak lama banyak dieksploitasi di berbagai daerah di Indonesia. Apabila keadaan ini terus berlanjut maka akan terjadi penurunan populasi di alam yang berujung pada kepunahan dari berbagai spesies Kima tersebut di alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan Kima di beberapa pulau di Kepulauan Seribu dan perairan di sekitar Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang bersifat eksploratif. Sampling dilakukan dengan metode Line Intersept Transect (LIT) menggunakan garis transek sepanjang 100 meter sejajar dengan garis pantai pada kedalaman 5 meter. Pengamatan dilakukan pada tiap 2,5 meter di sebelah kanan dan kiri garis transek. Hasil penelitian, ditemukan total 167 individu Kima di Kepulauan seribu dan 61 individu di perairan Manado.  Nilai kepadatan rata - rata pada lokasi Kep. Seribu adalah T. squamosa 0.026 indv/m2, T. maxima 0,016 indv/m2, T. crocea 0.028 indv/m2 sedangkan pada lokasi Manado adalah T. squamosa 0.021 indv/m2, T. maxima 0.0005 indv/m2, T. crocea 0.0085 indv/m2 dan T. gigas 0.002 indv/ m2. Hasil ini menunjukkan bahwa kepadatan Kima di dua lokasi penelitian masih lebih rendah dari beberapa lokasi di Indonesia dan luar negeri. Berdasarkan ukuran cangkang di dua lokasi penelitian diduga hanya T. crocea saja yang telah mencapai fase hermafroditiknya, sedangkan T. gigas dan sebagian besar T. squamosa serta T. maxima baru mencapai fase kematangan gonad jantan saja. Kebanyakan Kima ditemukan di  karang mati beralga (Dead Coral Algae / DCA) dan tututan karang hidup (coral covered) dibandingkan dengan jenis substrat yang lain. Kata kunci : Kima, tridacna, kelimpahan, Kepulauan Seribu, Manado   Giant clam, as a protected marine species, has been exploited massively in many regions in Indonesia. This has lead to the rapid extinction of the giant clam natural population. The purpose of the research is to obtain the abundance status of giant clam species in several island in Kepulauan Seribu and surroundings waters of Manado. Surveys were done by using the modification of Line Intercept Transect (LIT) methods. A hundred meter length of transect line were drawn, in depth of 5 meter and paralleled to the coast line. The observations were made in 2.5 meter to the left and right of the transect line. The results showed, there were total number of clams found at Seribu Islands and Manado waters were 106 and 61 individual, respectively. The average density in Seribu Islands were T. squamosa: 0.026 indv/m2, T. maxima: 0.016 indv/m2, and T. crocea: 0.028 indv/m2, and in Manado were T. squamosa: 0.021 indv/m2, T. maxima: 0.0005 indv/m2, T. crocea: 0.0085 indv/m2 and T. gigas: 0.002 indv/m2. These results showed that the density of giant clams in both places were  found to be lower than other places in Indonesia and abroad. Based from the shell measurements on both locations, only T. crocea were suspected have reached its hermaphrodite phase, while T. gigas and most of T. squamosa and T. maxima were about to reached male gonad maturity phase. The most dominant substrate for the giant clam were the Dead Coral Algae (DCA) and the coral covered. Key  words: Giant clam, tridacna, abundance, Seribu Islands, Manado

Pengaruh Surfaktan dan Hidrokarbon Terhadap Zooxanthellae

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.376 KB)

Abstract

Pencemaran perairan laut sudah sering dilaporkan terjadi di berbagai tempat. Pencemaran ini secara langsung memberikan pengaruh yang negatif terhadap biota laut mulai dari terjadinya gangguan proses biologis hingga ke kematian massal. Akibatnya terjadi degradasi lingkungan perairan laut. Salah satu biota yang sering menjadi korban adalah karang yang dikenal hidup bersimbiosis dengan algae zooxanthellae yang berperan sangat penting dalam kehidupan karang. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh polutan khususnya hidrokarbon dan surfaktan terhadap zooxanthellae yang diisolasi dari karang Acropora aspera; Porites lutea; Montipora digitata. Perlakuan yang diberikan adalah paparan hidrokarbon (bensin) dan surfaktan sabun cair dengan konsentrasi 5, 10 and 15 % volume selama 5 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surfaktan jauh lebih toksik dibanding dengan hidrokarbon terhadap zooxanthellae. Zooxanthellae yang diisolasi dari Acropora aspera menunjukkan kemampuan bertahan yang cukup baik terhadap hidrokarbon dibandingkan dengan kedua jenis karang yang lain. Sedangkan surfaktan mematikan zooxanthellae dengan cepat pada ketiga leve perlakuan.Kata kunci: zooxanthellae, hidrokarbon, surfaktan, pencemaran, karang. Marine pollution has been frequently reported in various places around the world. This pollution directly gives a negative impact on marine life ranging from disturbance of biological processes to the mass mortality. One of the marine organisms that severely affected by marine pollution is coral which is known to live in symbiosis with zooxanthellae algae that play a very important role in coral life. This study investigates the effects of pollutants, especially hydrocarbons and surfactants on zooxanthellae isolated from corals Acropora aspera; Porites lutea; and Montipora digitata. The treatment given is exposure to hydrocarbon (gasoline) and surfactant (ordinary soap) with a concentration of 5, 10 and 15% by volume for 5 minutes. The results showed that the surfactant is much more toxic than the hydrocarbons of the zooxanthellae. Zooxanthellae isolated from Acropora aspera showed the ability to survive quite well against hydrocarbons compared with the other two types of coral. While quick exposure of surfactant has resulted in rapid mortality of zooxanthellae at all three levels of treatment. Key words: zooxanthellae, pollutants, hydrocarbons, surfactant, corals

Pengaruh Dosis Terhadap Efektifitas Vaksin POM Vibrio alginolyticus 74 kDa pada Ikan Kerapu Macan Epinephelus fuscoguttatus

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.635 KB)

Abstract

Vibrio alginolyticus adalah bakteri patogen penyebab penyakit vibriosis pada ikan kerapu budidaya di Indonesia. Vaksin Protein Outer Membran (POM) V. alginolyticus telah terbukti imunogenik pada ikan kerapu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dosis vaksin  terhadap kemampuan POM V. alginolyticus 74 kDa dalam merangsang kerja sistem kekebalan spesifik ikan dan menentukan efek dosis terhadap perlindungan yang dihasilkan. POM(74 kDa) diisolasi dengan metoda sonikasi dan SDS-PAGE, dan dimurnikan dengan metoda elektroelusi. Vaksin diberikan dengan metoda suntik intraperitoneal ke ikan kerapu ukuran 8-10 cm (berat 1013 g) dengan dosis 0 (kontrol), 5, 10 dan 15 µg/0, 1 ml PBS/ 10 g ikan (n= 30 ekor/dosis).  Ikan kontrol disuntik dengan 0,1 ml PBS steril. Satu minggu kemudian ikan disuntik booster dengan cara dan dosis yang sama.  Dua  minggu  setelah  booster  dilakukan  uji  tantang  dengan  dengan  menyuntikkan  bakteri  Vibrio alginolyticus 8 secara intramuskular dengan dosis 0,1 ml X 109 sel/ml, dan ikan dipelihara selama 2 minggu. Jumlah ikan yang mati selama masa uji tantang dihitung untuk menentukan Relative Percentage Survival (RPS). Titer antibodi diukur sebelum percobaan dan setiap minggu selama penelitian. Ke 3 dosis yang diberikan efektif dalam merangsang respon kekebalan humoral ikan kerapu dan menghasilkan kekebalan yang melindungi yang hampir sama yang terlihat dari nilai RPS untuk dosis 5, 10 dan 15 µg masing masing 72, 87 dan 72%. Kata kunci: vaksin POM,  kerapu, dosis  Vibrio alginolyticus is a causative agent of  vibriosis of cultured grouper in Indonesia.  It has been reported  that the Outer Membrane Protein (OMP) of V. alginolyticus vaccine was immunogenic on grouper.  Vaccine dose is important in determining the ability of vaccine to conferred protective immunity. The objectives of the present research was to determine effect of vaccine doses on (1)  the specific immune response of grouper and (2) conferring protective immunity of grouper. OMP V. alginolyticus (74 kDa) was isolated by sonication and SDSPAGE, and purified by mean  electroelution. Vaccine was delivered by intraperitoneal injection to grouper juvenile (8 - 10 cm long  and  weigh10 - 13 g) in three doses;  0 (kontrol), 5, 10 dan 15 µg/0, 1 ml PBS/ fish (n= 30 fish/ dose).  Control fish were injected with 0,1 ml sterile PBS steril. One week later, booster  was given in the same manner as the primary vaccination. Two weeks following booster (week 4), fish were challenge with  V. alginolyticus 8 by intramuscular injection (0,1 ml X 109 sel/ml) and fish were maintained for two weeks. Fish mortality pos challenge test was counted to calcualte the Relative Percentage Survival (RPS). Antibodi titer was measured before vaccination and weekly for 4 week. All three doses tested were effective to  trigger the specific immune response of grouper dan conferred protective immunity with similar degree as shown by the RPS for dose 5, 10 dan 15 µg were 72, 87 dan 72% respectively. Key words: vaccine, OMP, grouper, dose.

Uji Keganasan Bakteri Vibrio pada Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.702 KB)

Abstract

Tiga belas isolat bakteri Vibrio yang terdiri atas 6 spesies diuji keganasannya pada ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) sehat yang berukuran panjang 9 – 13 cm dan berat 20 – 30 g. Ke enam spesiesbakteri Vibrio yang diuji adalah Vibrio alginolyticus (6 isolat), V. vulnificus (2 isolat), V. ordalii (2 isolat) V. fluvialis, V. anguillarum dan V. mectnikovii masing masing 1 isolat. Bakteri Vibrio ini berasal dari ikan Kerapu sakit dan air tambak dari berbagai tempat di Indonesia. Uji keganasan dilakukan dengan menyuntikkan suspensi bakteri sebanyak 0,5 ml x 109 CFU/ml secara intramuskular di bagian dorsolateral. Jumlah ikan yang disuntik adalah 5 ekor/isolat. Ikan kontrol (5 ekor) disuntik dengan 0,5 ml PBS steril. Ikan dipelihara selama 2 minggu didalam akuarium (vol air 40 L) yang dilengkapi dengan aerator. Jumlah ikan yang mati, waktu kematian serta gejala klinis yang terlihat dicatat. Untuk memastikan sebab kematian dan mengkonfirmasikan keberadaanbakteri vibrio yang disuntikkan, ikan yang mati dibedah dan bakteri diisolasi dari ginjal dan luka pada tubuh. Pada akhir penelitian semua ikan yang masih hidup dibunuh dan bakteri diisolasi dari ginjal. Bakteri hasil uji keganasan diidentifikasi dengan metoda biokimia. Semua isolat menyebabkan kematian pada ikan uji kecuali V.metchinovkii dan tidak ada ikan kontrol yang mati. Kultur murni isolat yang disuntikkan direisolasi dari semua ikan yang mati. Berdasarkan jumlah ikan uji yang mati dan waktu kematian isolat terdapat 4 isolat yang ganas yaitu V.anguillarum, V. ordalii (S) dan V. fluvialis (S) dan V. alginolyticus 8 (J). Gejala klinis ikan yang sakit sama yaitu nafsu makan berkurang, berenang miring dan lemah, ginjal pucat warna tubuh gelap. Beberapaisolat menyebabkan luka di punggung yang berkembang jadi borok.Kata kunci: keganasan, Vibrio, Kerapu, ikan, penyakit.Thirteen isolates of Vibrio which consists of 6 spesies were tested its virulency on healthy fishes, Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) with size 9 – 13 cm (tota length) and 20 – 30 g (weight). Those sixspecies of Vibrio were Vibrio alginolyticus (6 isolate), V. vulnificus (2 isolate), V. ordalii (2 isolate) V. fluvialis (1 isolate), V. anguillarum (1 isolate) and V. mectnikovii (1 isolate). These Vibrio were isolated from sick Kerapu and water pond from various places in Indonesia. The test was done by intramuscular injection of bacteria suspension i.e. 0,5 ml x 109 CFU/ml on the dorsolateral of the fish. The number of injected fish were 5 fish/isolate, while control fishes were injected with 0,5 ml of sterile PBS. The fishes were grown for 2 weeks on 40 L aerated aquariums. Mortality of the fish, time as well as clinical simptoms were recorded. The occurence of injected bacteria was confirmed by isolating the bacteria from the kidney and wound of the dead fishes At the end of the experiment all the live fishes were killed and bacteria on its kidney were isolated. All thebacteria were identified by using biochemical method. The results showed that all isolates have caused mortality on the fish except V. metchinovkii as well as control fishes. Four other isolates were found to be virulence. Clinical simptoms of sick fishes were the same i.e. lack of feeding activity, abnormal swimming activity and weak, pale kidney, and dark colouration of the skin. Several isolates have caused wound on the back of the fish as well.Key words: virulency, Vibrio, Kerapu, fish, diseases.

Fluktuasi Kandungan Proksimat Kerang Bulu (Anadara inflata Reeve) di Perairan Pantai Semarang

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.525 KB)

Abstract

Kerang bulu, Anadara inflata Reeve, merupakan kerang yang paling banyak ditangkap di perairan Semarang. Kerang ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat, namun belum banyak informasi mengenai kandungan gizi yang terdapat dalam kerang ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat fluktuasi kandungan proksimat dari kerang Bulu yang diambil di perairan Semarang. Kandungan proksimat yang diukur adalah protein, lemak, karbohidrat, kadar air, dan kadar abu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein berkisar antara 6,79 % - 11 92 %; kadar lemak berkisar antara 4,2 % - 6,16 %, dan kadar karbohidrat berkisar antara 2,3 % - 4,35 %. Sedangkan kadar air terendah terdapat dalam kerang bulu berukuran 20,0 – 30,0 mm sebesar 77,55 % dan kadar air terbanyak terdapat dalam kerang berukuran 50,10 – 60,0 mm sebesar 82,64 %; dan kadar abu berkisar antara 1,27 % - 2,08 %. Pada penelitian ini tidak terjadi fluktuasi kandungan proksimat. Perbedaan kandungan proksimat dalam kerang bulu pada ukuran maupun waktu sampling yang berbeda diduga karenabeberapa faktor, diantaranya adalah umur, ukuran tubuh, siklus reproduksi, serta faktor lingkungan.Kata kunci: kerang Bulu (Anadara inflata Reeve), fluktuasi, proksimatKerang bulu, Anadara inflata Reeve, is known as the most caught species of cockle around Semarang waters. This bivalve is also known as the largest number of cockle being consumed, however, there is only limited information available on its nutrition content. The aim of this study is to investigate proximate content of Kerang Bulu (A. inflata) caught in Semarang waters. Proximate content being analyzed were protein, lipid, carbohydrate, ash and water content. The result showed that the protein content were ranged between 6,79 % - 11,92 %; lipid content were ranged between 4,2 % - 6,16 % and carbohydrate content were between 2,3 % - 4,35 %. While the minimum water content in 20,0 – 30,0 mm is 77,55 %, and the maximum watercontent in 50,10 – 60,0 mm is 82,64 %; and the ash content were between 1,27 % - 2,08 %. The differences on the proximate content within different size of the cockles and differences of time sampling probably dueto differences of age, body size, reproduction cycle, and environmental factors.Key words : Kerang bulu (Anadara inflata Reeve), fluctuation, proximate content

Struktur Komunitas Zooplankton di Muara Sungai Serang, Jogjakarta

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.834 KB)

Abstract

Zooplankton adalah salah satu komponen dalam rantai makanan yang diukur dalam kaitan dengan nilai produksi suatu ekosistem. Hal ini dikarenakan zooplankton berperan ganda baik sebagai konsumen satu maupun konsumen dua, dimana merupakan rantai penghubung di antara plankton dan nekton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas zooplankton di perairan muara Sungai Serang Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Penentuan stasiun sampling menggunakan metode pertimbangan (purposive sampling method). Pengolahan data meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi, dan indeks dispersitas Morisita. Parameter perairan yang terukur suhu, salinitas, kecerahan, kecepatan arus, kedalaman, derajat keasaman (pH), DO, nitrat, dan fosfat. Hasil penelitian berdasarkan tanggal samplingdiperoleh kelimpahan rata-rata zooplankton berkisar antara 6.704-36.427 sel/L dengan indeks keanekaragaman 1,16-1,78; indeks keseragaman 0,75-0, 95; dan indeks dominansi 0,13-0,31. Sedangkan hasil penelitian berdasarkan stasiun diperoleh kelimpahan rata-rata zooplankton berkisar antara 10.952-31.669 sel/L dengan indeks keanekaragaman 1,17-1,65; indeks keseragaman 0,76-0,95; dan indeks dominansi 0,13 - 0,21.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil, bahwa genus zooplankton yang memiliki sebaran luas pada setiap stasiun (dominan) adalah genus Trigriopus, Nauplius, Pseudocalanus (Crustacea), Brachionus, Plerodina (Rotatoria). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa zooplankton yang terdapat di perairan muara Sungai Serang Yogyakarta terdiri dari 6 kelas dan 21 genus. Sedangkan dilihat dari nilai indeks keanekaragaman dan keseragaman diketahui bahwa muara Sungai Serang termasuk daerah yang memiliki komunitas zooplankton yang beragam dan didominasi oleh kelas Crustacea.Kata kunci: struktur dan indeks komunitas,  zooplankton, estuarinZooplankton is one of the components in the food chain especially in relation to the production of an ecosystem. This is due to the fact that zooplankton play both as first and second consumer. The objective of this study was to investigate the community structure of zooplankton within Serang River estuary, Yogyakarta. The research was based on a case study, while sampling was done by purposive sampling method. The abundance, variety index, diversity index, dominancy index, and dispersity index were calculated based on the data collected.. The water parameter measured temperature, salinity, transparency, current velocity, pH, dissolvedoxygen, nitrate, and phospate. The result showed that based on the date of sampling the average of zooplankton abundance were ranged between 6704 - 36427 cell/L with variety index range between 1,16-1,78; diversity index were ranged between 0,75-0,95; and dominancy index were ranged between 0,13-0,31. While the results based on sampling station of the average of zooplankton abundance was range between 10.952 - 31.669 cell/L with variety index were ranged between 1,17-1,65; diversity index were ranged between 0,76-0,94; and dominancy index range between 0,13-0,21. The most common genera of zooplankton found in sampling station were Tigriopus, Nauplius, Pseudocalanus (Crustacea), Brachionus, Pterodina (Rotatoria).There were 6 classes and 21 genera of zooplankton found in the estuary of Serang River, Yogyakarta. Based on the value of the indices, it suggest that this estuary has high diversity of zooplankton and dominated by class CrustaceaKey words : structure and community indices, zooplankton. estuary

Identifikasi Sand Dollar dan Karakteristik Habitatnya di Pulau Cemara Besar, Kepulauan Karimunjawa Jepara

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.018 KB)

Abstract

Sand dollar (Echinoidea, Echinodermata) memiliki bentuk tubuh ireguler, pipih dan tidak mempunyai lengan. Sand dollar banyak ditemukan di daerah Intertidal, terutama pada daerah berpasir. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui jenis Sand dollar dan karakteristik habitatnya di Pulau Cemara Besar Kepulauan Karimunjawa Jepara. Penelitian dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2003. Analisa sampel dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Kelautan Teluk Awur, Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan metode survey. Walaupun hasil penelitianmenunjukkan hanya satu spesies Sand dollar yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu Laganum laganum, namun terdapat 10 variasi corak pada permukaan aboralnya. Sand dollar yang ditemukan pada sisi barat pulau lebih banyak dibandingkan yang ditemukan pada sisi timur, hal ini diduga karena adanya perbedaan karakteristik habitat. Karakteristik habitat Sand dollar di sisi barat adalah 48% pasir berflora dengan dengan kandungan bahan organik rata-rata 3,88%. Sedangkan karakteristik habitat di sisi timur 52% hamparan pasir dengan dengan kandungan bahan organik rata-rata 2,88%.Kata kunci : Sand dollar, variasi corak, habitatSand dollar (Echinoidea, Echinodermata) have an irregular body shape, thin and they do not have any arms. These animals can be found in intertidal area with sandy bottoms. The present study aims to investigate the natural populations of Sand dollar at Cemara Besar island, Karimunjawa and its relation with its habitat. This study was done on September – October 2003, and samples were analysed at Teluk Awur Marine Laboratory, Jepara. The results showed that there was only one single species of sand dollar found in the area, i.e. Laganum laganum. Within this spesies there were 10 variation of aboral surface pattern. There was also differences on the Sand dollar abundance between west and east side of the island, where higher number of sand dollars were dound at west side os the island. It also found that the bottom habitat of west side consists of 48% sand with flora, and 3,88%. While at east side consists of 52% sand and an average of 2,88% organic content.Key words : Sand dollar, aboral surface pattern, habitat

Studi Kandungan Proksimat Kerang Jago (Anadara inaequivalvis) di Perairan Semarang

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.676 KB)

Abstract

Kerang (Bivalvia) merupakan salah satu produk perikanan yang memiliki nilai penting sebagai sumber makanan, dimana produk hasil tangkapan terdiri dari berbagai jenis dan ukuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrisi dari Anadara inaequivalvis pada waktu penangkapan dan kelas ukuran yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2003 yang mengambil lokasi penelitian perairan Semarang. Sampling A. inaequivalvis dilakukan sebulan sekali sebanyak 150 individu setiap kali sampling dengan menggunakan alat garuk. Analisa sampel dilaksanakan di laboratorium Kimia Oseanografi Ilmu Kelautan, Teluk Awur, Jepara. Hasil analisa proksimat diketahui bahwa pada Anadara inaequivalvis dengankelas ukuran 20 – 25 mm memiliki kisaran kandungan air antara 78,94% - 80,49% tertinggi pada bulan Oktober dengan kelas ukuran 30,01-35,00 mm. Kandungan Karbohidratnya berkisar antara 1,05 - 3,77 mm.tertinggi pada bulan Agustus dan untuk kelas ukuran 20,00 – 25,00 mm. Kandungan Protein berkisar antara 12,01 – 13,22 %. Tertinggi pada bulan Agustus dengan kelas ukuran 30,01 – 35,00 mm. Kandungan lemakberkisar antara 2,25 – 3,28 % tertinggi pada bulan Agustus dan kelas ukuran 30,01 – 35,00 mm. Kadar abu berkisar antara 2,09 – 3,05 %. tertingi pada bulan September dengan kelas ukuran 30,01 –35,00 mm.Kata kunci : Anadara inaequivalvis, nutrisi, proksimatMore than 7% of fisheries product from total catch in the world and has an important role as food sources in international trade are molluscs, including bivalves. These caught bivalves are consists of different sizeand species. The purpose of this research is to investigate biochemical content of Anadara inaequivalvis at different time and size range. Sampling were done every month between August – October, 2003 atSemarang waters. An amount of 150 individuals were taken every sampling time by using dredger. The samples were analyzed at Teluk Awur, Marine Lab. Jepara. The result of proximate analysis showed thatwater content of A. inaequivalvis was between 78,94% - 80,49%. The highest water content was found on those collected on October with size range 30,01-35,00 mm. The carbohydrate content was between 1,05- 3,77 %. The highest carbohydrate content was found on those collected on August with size range 20,00 – 25,00 mm. Protein content was between 12,01 – 13,22 %, and the highest concentration was found onthose collected on August with size range 30,01 – 35,00 mm. The lipid content was between 2,25 – 3,28 %, and the highest concentration was found on those collected on August with size range 30,01 – 35,00mm. The mineral content was between 2,09 – 3,05 %, the highest mineral content was found on those collected on September with size range 30,01 –35,00 mm.Key words : Anadara inaequivalvis, nutrient, proximate, Semarang