p-Index From 2015 - 2020
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Buletin Peternakan
Rusman (Rusman)
Unknown Affiliation

Published : 28 Documents
Articles

Found 28 Documents
Search

Pengaruh Temperatur dan Lama Pemasakan terhadap Keempukan dan Kandungan Kolagen Daging Sapi (Jamhari), Jamhari; Suryanto, Edi; (Rusman), Rusman
Buletin Peternakan Vol 31, No 2 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (2) Mei 2007
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1416.807 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1223

Abstract

File lengkap ada dalam bentuk PDF dibawah ini
Variabel Penduga Bobot Karkas Sapi Simmental Peranakan Ongole Jantan Hidup Prabowo, Sigid; (Rusman), Rusman; (Panjono), Panjono
Buletin Peternakan Vol 36, No 2 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (2) Juni 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.59 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1585

Abstract

Tujuan penelitian adalah menginventarisasi variabel penduga bobot karkas yang dihasilkan dari seekor sapi hidup didasarkan pada persepsi pemotong sapi dan mengkaji hubungan variabel penduga secara statistika. Penelitian I adalah survei terhadap 30 pemotong sapi di Yogyakarta, dianalisis secara deskriptif dan penelitian II adalah pengukuran variabel penduga yang diperoleh pada penelitian I terhadap 61 ekor sapi Simmental Peranakan Ongole, dianalisis dengan korelasi, regresi, dan kurva estimasi. Pada penelitian I diperoleh 14 variabel penduga yaitu panjang badan (90,0%), lebar pinggul (83,3%), tebal kulit (66,7%), paha belakang (53,3%), paha depan (53,3%), lebar pangkal ekor (46,7%), dalam dada (36,7%), lingkar perut (36,7%), lingkar tulang canon (30,0%), kepadatan daging (30,0%), panjang ekor (26,7%), lebar tulang lumbar (20,0%), tinggi gumba (6,7%), dan lebar leher (6,7%). Penelitian II diperoleh 13 variabel penduga yang berhubungan positif (P<0,01) yaitu panjang badan (X1), lebar pinggul (X4), tebal kulit, paha belakang, paha depan, lebar pangkal ekor (X5), dalam dada (X7), lingkar perut, (X2), lingkar canon, kepadatan daging, lebar lumbar, tinggi gumba (X3), dan lebar leher (X6). Persamaan regresi bobot badan yaitu Y= -993,882+ 1,446X1+1,994X2+3,025X3+4,284X4+8,902X5+5,260X6 koefisien determinasi 0,898. Persamaan regresi bobot karkas yaitu Y= -741,714+1,779X1+2,346X3+1,048X2+2,448X4+3,160 X6, koefisien determinasi 0,905. Persamaan regresi bobot daging Y= -749,427+2,349X1 +1,988X7+1,858X3+1,019X2+4,959X5,koefisien determinasi 0,902. Persamaan kurva estimasi bobot badan yaitu Y= -1243,169+15,311(X1)-0,021(X1)2 koefisien determinasi 0,654. Persamaan kurva estimasi bobot karkas yaitu Y= -559,207+5,611(X1)+0,001(X1)2 koefisien determinasi 0,702. Persamaan kurva estimasi bobot daging yaitu Y= -484,141+4,801(X1)+ 0,003(X1)2 koefisien determinasi 0,709. Variabel penduga bobot badan, karkas, dan daging terbaik adalah panjang badan. (Kata kunci: Variabel penduga, Bobot karkas, Simmental Peranakan Ongole)
Pengaruh Temperatur dan Lama Pemasakan terhadap Kualitas Fisik Daging Sapi (Jamhari), Jamhari; (Rusman), Rusman; Erwanto, Yuny
Buletin Peternakan Vol 30, No 2 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (2) Mei 2006
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.565 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1198

Abstract

File lengkap ada dalam bentuk PDF dibawah ini
Karakteristik Fisik, Kimia, Sensoris, dan Kandungan B-Karoten Bakso yang Terbuat dari Kombinasi Daging Sapi dan Daging Ayam Petelur Afkir dengan Penambahan Daun Katuk (Sauropus androgynus) Sujarwanta, Rio Olympias; (Rusman), Rusman; (Setiyono), Setiyono
Buletin Peternakan Vol 36, No 2 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (2) Juni 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1556.42 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1586

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik, kimia, sensoris, dan kandungan β-karoten bakso yang terbuat dari kombinasi daging sapi dan daging ayam petelur afkir dengan penambahan daun katuk. Penelitian ini dilakukan dengan lima macam perlakuan yaitu imbangan daging sapi dan daging ayam petelur afkir dengan perbandingan 100:0, 75:25, 50:50, 25:75, dan 0:100. Lima macam perlakuan tersebut selanjutnya disuplementasi daun katuk dengan konsentrasi 0; 2,5; dan 5% dari berat daging. Pengujian yang dilakukan meliputi uji karakteristik fisik (pH, daya ikat air, dan keempukan), karakteristik kimia (kadar air, protein, dan lemak), karakteristik sensoris (warna, aroma, tekstur, kekenyalan, dan daya terima), dan kandungan β-karoten. Data karakteristik fisik dan kimia dianalisis variansi pola faktorial (3 faktor penambahan daun katuk x 5 faktor imbangan daging). Data karakteristik sensoris dianalisis non-parametrik yaitu uji Hedonik Kruskal-Wallis, dilanjutkan uji Quantitative Descriptive Analysis (QDA) dalam model jaring laba-laba (spider web). Perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan daging sapi dan ayam petelur afkir sebesar  0:100% dapat meningkatkan pH, daya ikat air, keempukan, kadar air, kadar protein, dan kandungan β-karoten bakso berturut-turut sebesar 0,20; 5,8%; 4,74 mm/45 g; 5,58%; 4,28%; dan 8,39 μg/100 g; tetapi menurunkan kadar lemak sebesar 0,31% (P<0,05). Penambahan daun katuk pada level 2,5% dapat meningkatkan daya ikat air, kadar air, kadar protein, dan kandungan β-karoten masing-masing sebesar 2,72%; 2,70%; 1,10%; dan 17,82 μg/100 g; tetapi menurunkan pH, keempukan, dan kadar lemak berturut-turut sebesar 0,35; 2,01 mm/45 g; dan 0,08% (P<0,05). Imbangan daging dan level penambahan daun katuk secara umum tidak mengubah karakteristik sensoris dan tidak menunjukkan interaksi antara masing-masing perlakuan. Imbangan daging sapi dan ayam petelur afkir sebesar 0:100% menunjukkan hasil yang terbaik. Penambahan daun katuk yang paling optimal adalah pada level 2,5%. (Kata kunci: Bakso, Imbangan daging sapi dan daging ayam petelur afkir, Daun katuk, Fisik, Kimia, β-karoten, Sensoris)
Pengaruh Metode Thawing terhadap Kualitas Fisik dan Mikrostruktur Daging Beku Sapi Peranakan Ongole Jantan Dewasa Utami, Ulia Rahmawati; (Jamhari), Jamhari; (Rusman), Rusman
Buletin Peternakan Vol 30, No 3 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (3) Agustus 2006
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.232 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1205

Abstract

File lengkap ada dalam bentuk PDF dibawah ini
EFEK LAMA STIMULASI DAN TEGANGAN LISTRIK TERHADAP KOMPOSISI KIMIA, KUALITAS FISIK, DAN SENSORI DAGING AYAM PETELUR AFKIR Syam, Adnan; (Soeparno), Soeparno; (Rusman), Rusman
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.062 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek lama stimulasi dan tegangan listrik terhadap komposisi kimia, kualitas fisik, dan sensori daging ayam petelur afkir. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3 x 4 dengan 6 kali ulangan pada setiap kombinasi. Sampel penelitian adalah 72 ekor ayam petelur afkir yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan dengan lama stimulasi 0, 1, dan 2 menit, dan 4 kelompok perlakuan stimulasi listrik 60, 75, dan 90 volt, dan kontrol dengan jumlah ulangan masing-masing 6 kali. Interaksi lama stimulasi dan tegangan listrik berpengaruh nyata terhadap kualitas fisik daging, yaitu pH, daya ikat air, susut masak, keempukan, dan kadar protein daging. Stimulasi listrik selama dua menit dengan tegangan 90 volt dapat memperbaiki kualitas fisik daging ayam petelur afkir, dibandingkan dengan kombinasi lainnya. Interaksi antara lama stimulasi dan tegangan listrik dapat memperbaiki kualitas sensori daging yaitu keempukan, warna, aroma, dan tekstur daging ayam petelur afkir.(Kata kunci: Ayam petelur afkir, Komposisi kimia, Kualitas fisik, Sensori, Stimulasi listrik)
PENGARUH METODE PENGERINGAN DAN KONSENTRASI BUMBU SERTA LAMA PERENDAMAN DALAM LARUTAN BUMBU TERHADAP KUALITAS FISIK DAN SENSORI DENDENG BABI Veerman, Marcus; (Setiyono), Setiyono; (Rusman), Rusman
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.599 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan dan konsentrasi bumbu serta lama perendaman terhadap pH dan sensori dendeng daging babi. Irisan daging direndam dalam larutan bumbu dengan konsentrasi 40, 20, 13,3, dan 10%. Lamanya perendaman adalah 1, 3, 5, dan 7 jam, kemudian dilakukan pengeringan dengan sinar matahari dan oven. Parameter yang diamati meliputi pH dan parameter sensori. Data pH dianalisis dengan analisis variansi Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 2×4×4 dengan tiga kali ulangan, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Data uji sensori dianalisis dengan analisis non parametrik  menggunakan uji Hedonik menurut Kruskal-Wallis, dilanjutkan  analisis deskriptif kuantitatif (jaring labalaba) pada program MS Excel. Metode pengeringan dan konsentrasi bumbu serta lama perendaman, dan interaksi ketiga perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pH dendeng daging babi. Berdasarkan diagram jaring laba-laba, uji sensori meliputi parameter warna menunjukkan coklat sampai coklat keemasan, rasa menunjukkan agar suka sampai sangat suka dan daya terima menunjukkan agak suka sampai sangat suka. Metode pengeringan matahari menghasilkan tekstur kasar sampai agak kasar dan keempukan menunjukkan keras sampai agak keras. Metode pengeringan oven menunjukkan parameter warna agak coklat sampai coklat keemasan dan rasa agak suka sampai sangat suka, sedangkan daya terima tidak suka sampai agak suka, tekstur kasar sampai agak kasar dan keempukan keras sampai agak keras.(Kata kunci: Dendeng babi, Kualitas pH, Uji sensori, Metode pengeringan, Konsentrasi bumbu)
Pengaruh Metode Pembuatan dan Pengeringan yang Berbeda terhadap Karakteristik Fisik, Kimia, dan Sensoris Dendeng Daging Kelinci Prayitno, Agus Hadi; Saputra, Dwi Puspa Adie; Kurniati, Antariya; Widyastuti, Herni; Utami, Raras Rahayu; (Soeparno), Soeparno; (Rusman), Rusman
Buletin Peternakan Vol 36, No 2 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (2) Juni 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1444.092 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1587

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pembuatan dan pengeringan yang berbeda terhadap karakteristik fisik, kimia, dan sensoris dendeng daging kelinci. Metode pembuatan dendeng yaitu iris dan giling. Metode pengeringan dendeng yaitu kering matahari dan kering oven. Setiap perlakuan terdiri atas tiga replikasi. Data hasil uji karakteristik fisik dan kimia dendeng dianalisis dengan analisis variansi pola faktorial 2 x 2. Perbedaan rerata pada interaksi diuji dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test. Data hasil uji sensoris dendeng dianalisis dengan analisis non parametrik dengan uji Hedonic Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembuatan yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap karakteristik fisik dendeng (nilai pH, susut masak, dan keempukan), karakteristik kimia dendeng (kadar lemak), dan karakteristik sensoris dendeng (tekstur, keempukan, dan daya terima). Metode pengeringan yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap karakteristik fisik dendeng (susut masak dan keempukan), karakteristik kimia dendeng (kadar lemak), dan karakteristik sensoris dendeng (warna). Ada interaksi yang nyata (P<0,05) antara metode pembuatan dan pengeringan yang berbeda terhadap karakteristik kimia dendeng sedangkan berbeda tidak nyata terhadap karakteristik fisik dendeng. Dendeng giling dengan kering oven adalah yang paling baik dengan tekstur yang lebih halus, lebih empuk, dan lebih disukai. (Kata kunci: Daging kelinci, Karakteristik dendeng, Pembuatan, Pengeringan)
Karakteristik Kimia dan Mikrostruktur Otot Longissimus Dorsi dan Biceps Femoris dari Sapi Glonggong (Chemical Characteristics and Microstructure of Longissimus Dorsi and Biceps Femoris Muscle of Glonggong Beef Cattle) Prasetyo, Amrih; (Soeparno), Soeparno; Suryanto, Edi; (Rusman), Rusman
Buletin Peternakan Vol 33, No 1 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (1) Februari 2009
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1230.104 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/131

Abstract

The study was conducted to evaluate chemical and microstructure characteristics of glonggong (excessive drink) meat compared with the normal meat. The meat samples were taken from Boyolali Regency, came from five glonggong male Ongole grade cattle, and from five normal cattle with the average life weight of 250–300 kg. The chemical data were analyzed by using analysis of variance of 2x2 factorial patterns. The microstructure characteristics were also analyzed descriptively. The water content of glonggong meat was higher compared with that of normal meat on BF and LD muscle, average water content was 80.64% and 80.14% vs 78.60% and 74.57%, respectively. The protein contents of BF (15.98%) and LD (16.17%) was lower than the protein contents normal meat of BF (21.08%) and LD (21.07%), respectively. The Result of statistical analyzed shows significant pengglonggongan of cattle before slaughtered (P<0.05) to meat fat value at every muscle. The meat lactic acid value of glonggong meat of LD muscle was lower than that of normal meat of LD muscle (2815.891 vs 6827.77 ppm). There was a damage of glonggong meat microstructure of LD, BF muscle and also of liver organ. In conclusion, glonggong meat had a lower chemical characteristics compared with the normal meat.(Key words: Chemical, Microstructure, Meat, Glonggong)
Evaluasi Karakteristik Fisik, Komposisi Kimia dan Kualitas Mikrobia Karkas Broiler Beku yang Beredar di Pasar Tradisional Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara (Evaluation of Physical Characteristics, Chemical Composition and Microbial Quality of Frozen Matulessy, Dellen Naomi; Suryanto, Edi; (Rusman), Rusman
Buletin Peternakan Vol 34, No 3 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (3) Oktober 2010
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.662 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/88

Abstract

The experiment was conducted to evaluate the quality of frozen broiler carcass sold in traditional markets of North Halmahera. Samples were taken from three traditional markets that selling frozen broilers and five sellers for each market were chosen. Three carcasses were taken from each trader replications. Macroscopic observation was done by seven panelists to asses 14 carcasses from each seller. Parameters observed were macroscopic characteristis of carcasses i.e. conformation, fleshing, fat cover, wholeness, discoloration, defeathering, color, and aroma of carcass. Physical characteristis determined were pH, cooking loss, water-holding capacity, and tenderness. Chemical composition included water, fat, and protein contents, and microbial quality consisted of total microbial, Coliform and Escherichia coli bacteria. Macroscopic characteristic data were assessed using descriptive analysis based on National Standard, whereas physical quality, chemical and microbial quality data were analyzed using analysis of variancecompletely randomized design. The differences between means, were tested using Duncan’s new Multiple Range Test. The results showed that the average macroscopic properties of conformation, fleshing, fat covering, wholeness,discoloration, defeathering and the colour of frozen broiler carcasses with score I, were 40.41, 38.16, 50.41, 49.80, 49.59, and 50.82% respectively. Quality factor of the aroma/odor of a carcass with score II was 63.47%. The data ofphysical quality of broiler meat were as follow: pH 6.16, cooking loss 21.72%, water-holding capacity 23.01%, and tenderness 2.81 kg/cm2. The chemical composition of broiler meat were moisture 71.93%, lipid 2.50% and protein20.11%. Data of microbial quality of broiler carcass were total plate count 7.1x105 cfu/g, and E.coli 0.8x101 cfu/g, there was not any significant differences between the seller, however there was significant differences among the selleron the number of coliform (P<0.05). The conclusions of the experiment were that broiler carcasses sold in the traditional market in North Halmahera in respect of their physical characteristics and their chemical composition have not altered, whereas the microbial quality such as total plate count and E.coli number was still below threshold. Furthermore, coliform population was also below the maximum number allowed.(Key words: Traditional market, Broilers frozen, Physical characteristics, Chemical composition, Microbial quality)