Alit Supandi, I Nyoman
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Sad Dharma As A Learning Method Of Hindu Religious Education And Character Of 2013 Curriculum In SMP Gurukula Bangli Sutriyanti, Ni Komang; Marsono, Marsono; Alit Supandi, I Nyoman
Vidyottama Sanatana: International Journal of Hindu Science and Religious Studies Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.526 KB)

Abstract

The success of an education is largely determined by many factors, some of the factors in supportingthese successes are the quality of human resources (HR), facilities, infrastructure, and the curriculum used. The change in curriculum requires teachers to understand and be able to implement all these changes in the learning process in the classroom, but not many teachers understand and are able to implement these changes in learning activities, especially in the use of learning methods. Therefore, this paper will attempt to examine the Sad Dharma method of learning of Hindu religious education and character entitled "Sad Dharma as a Learning Method of Hindu Religious Education and Character of 2013 Curriculum in SMPGurukula Bangli". This paper used qualitative research methods, the location of research was in SMP Gurukula Bangli, the type of data was descriptive data with primary and secondary data sources, informant determination techniques used purposive sampling technique, data collection methods used observation, interview, library study, and documentation techniques, and used data analysis techniques and presentation techniques of data analysis results. Based on the tests which were carried out, it could be stated that the Sad Dharma method was applied in its entirety starting from the dharma wacana, dharma tula, dharma santi, dharma gita, dharma sadhana, and dharma yatra. Constraints faced by its implementation were teacher, facilities, and curriculum. The implications of the implementationof Sad Dharma learning methods were the implications for spiritual attitudes, implications for social attitudes, implications for cognitive/knowledge and implications for psychomotor aspects.
PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM PEMENTASAN TARI BARONG KETET UNTUK PERTUNJUKAN PARIWISATA DI BANJAR DENJALAN BATUBULAN Alit Supandi, I Nyoman
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.647 KB)

Abstract

Tari Barong tidak termasuk tari wali, tetapi tidak semua barong tidak temasuk tari wali, Salah satu tari Barong yang secara kontinyu dipertontonkan adalah tari barong ketet di banjar denjalan desa Batubulan untuk pertunjukkan pariwisata, tari ini memiliki kesenian yang sangat menarik, hal ini akan mendukung perkembangan pariwisata. Yudabakti dan Watra 2007:25 Seni atau estetika yang jangkaunnya tidak terbatas pada suatu daerah tertentu saja, akan tetapi berlaku secara mendunia dan universal. Bahasanya menjangkau termasuk wilayah Bali yang sudah terkenal tentang seninya. Salah satu wujud kesenian yang dipertunjukkan sebagai hiburan pariwisata yaitu tari barong ketet. Kenapa tari Barong Ketet ini di tulis Karena tari Barong Ketet ini sudah terkenal, melihat dari segi ceritra mengandung unsur kebaikan dan keburukan. Didalam jaman gelobalisasi ini, orang lebih cenderung mengejar kemajuan tampa melihat dampak negatifnya. Disamping tari Barong Ketet ini memiliki unsur ruwa bineda juga terkandung nilai pendidikan estetis, religiusnya, dan sosial masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka pertunjukkan tari Barong Ketet ini sangat menarik untuk ditulis. Adapun hasil penulisan ini adalah sebagai berikut 1. prosesi pementasan tari Barong Ketet terlebih dahulu dilakukan persiapan untuk pementasan, ada yang mengatur dibidang gambelan, dekorasi, tiket, peralatan dan pakian. 2. Nilai yang terkandung didalam pementasan barong ketet yaiu nilai pendidikan estetis religius dan sosial masyarakat. Estetisnya terletak kepada periasan barong dan kuubnya barong, sedangkan nilai religiusnya terdapat pada saat pementasan harus mempersembahkan sesajen dari pada itu setiap pementasan sebaiknya mempersembahkan sesajen, guna untuk mendapatkan keharmonisan. sedangkan nilai sosial masyarakat terdapat pada aktipitas pelaksanaan pementasan terjalin kerjasama yang sangat baik, karena seke barong menyadari bahwa manusia adalah sebagai mahluk yang sosial, dan memiliki pedoman tatwa masi sehingga semuanya adalah sama dan tidak ada yang membedakan satu antara yang lainnya.Kata Kunci : Pendidikan Agama, Pementasan, Tari Barong Ketet