Suka, Ediman Ginting
Universitas Lampung

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengaruh Waktu Elektroplating Terhadap Laju Korosi Baja AISI 1020 Dalam Medium Korosif NaCl 3% Sandi, Aisiyah Putri; Suka, Ediman Ginting; Supriyatna, Yayat Iman
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v5i2.1816

Abstract

The influence of electroplating time Zn-Mn to corrosion rate of AISI 1020 steel in corrosive medium NaCl 3% had been researching. This research used time variation 10, 20, 30, 40, and 50 seconds. Corrosion rate testing is done by soaking the steel for 168 hours in corrosive medium NaCl and calculated with the loss of steel weight. The result showed that the longer electroplating time that used, caused the increasing of mass and Zn-Mn content of steel. It can make the corrosion rate will be decreased. The lowest corrosion rate obtained at 50 seconds electroplating time and 60 mA/cm2 current density is 0,059 mmpy. XRD characterization of steel without electroplating after corrosion rate testing showed the changing of phase from iron into oxide phase magnetite (Fe3O4). The analyze of metallurgical microscope showed the better layer with the increasing time, whereas after corrosion rate testing the steel surface were cracks.
Pengaruh Waktu ElektroplatingCu-Mn Terhadap Laju Korosi Baja AISI 1020 Dalam Medium Korosif NaCl 3% Noviyana, Ratna; Suka, Ediman Ginting; Supriyatna, Yayat Iman
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v5i2.1817

Abstract

The influence of electroplating time Cu-Mn to corrosion rate of Steel AISI 1020 in corrosive medium NaCl 3% had been researched. Corrosion rate testing is used weight loss method by soaking the samples in the corrosive medium NaCl for 168 hours. The results showed that the longer time electroplating that used, the corrosion rate will be decreased. This is because the growing number of Cu and Mn ions deposited on the surface of the sample after electroplating. The lowest corrosion rate obtained at the time of 50 seconds that is 0.098 mmpy. The analysis results of metallurgical microscope showed that the coating looks thicker with increasing time of electroplating, while after corrosion rate tested thecoatings being black and a few coating of samples were cracked due to corrosion.The X-Ray Diffraction (XRD) characterization result showed thatthe phase of AISI 1020 raw material after corrosion tested is changed from pure iron (Fe) to magnetite phase (Fe3O4).
Analisis Laju Korosi dan Kekerasan pada Stainless Steel 304 dan Baja Nikel Laterit dengan Variasi Kadar Ni (0, 3, dan 10%) dalam Medium Korosif Novita, Sinta; Suka, Ediman Ginting; Astuti, Widi
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v6i1.1822

Abstract

In this research, the analysis of corrosion rate and hardness on stainless steel 304 and lateritic nickel steel in corrosive medium has been done. The lateritic nickel steel used has different Ni content of 0, 3, 4, 6, and 10%. The corrosion rate was calculated using the weight loss method while the hardness was measured by the Rockwell method. The test results showed that the corrosion rate was highest in samples immersed in the corrosive medium H2SO4 3.5% for 7 days, that is equal to 8.39 x 10-3 mm/year for the SS-304. For lateritic nickel steel, the highest corrosion rate occured in the sample with 0% Ni in corrosive medium H2SO4 3.5% which is equal to 50.85 mm/year. The hardness of the samples decreased after corrosion. The result of XRD analysis showed that SS-304 steel has an Fe-g (ferrite) and Fe-g (austenite) phase while the lateritic nickel steel has Fe phase. However, Ni phase was also formed in lateritic nickel steel with Ni content of 6% and Fe-g (austenite) phase in lateritic nickel steel with Ni content of 10%. The result of SEM characterization showed that the corrosion product formed is pitting corrosion with different hole diameter. The result of EDX analysis showed the presence of  elements of O, Na, and Cl on corroded samples in the corrosive medium NaCl 3.5%.
Efektivitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L) sebagai Inhibitor pada Baja Karbon AISI 1020 dalam Medium Korosif NaCl 3% Aditama, Repangga Yudi; Suka, Ediman Ginting; Syafriadi, Syafriadi
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v7i1.1927

Abstract

Papaya leaf extract used as an inhibitor in carbon steel sample AISI 1020, was immersed in a 3% carboxy NaCl medium. By varying the immersion time of 4 days and 8 days, and also the concentration of inhibitor 0%, 3%, 5% and 7%. After the treatment of the sample obtained the slowest corrosion rate calculation results in AISI 1020 4.5 samples and the fastest in the AISI 1020 8.7 sample. The inhibitor used has the most efficient efficiency value in the AISI 1020 4.5 sample and the inefficient value in the AISI 1020 4.7 sample. The XRD characterization results show that the crystalline structure formed is BBC with pure Fe phase. The SEM characterization shows the surface morphology of the steel sample, visible in the sample without the addition of more inhibitors than the sample with the added inhibitor. In addition, cracks do not appear on the AISI 1020 4.5 sample. Characterization of EDS in the sample seen elements of Oxygen (O) and Clorin (Cl) which indicates that the sample has been corroded.
Pengaruh Proses Pemanasan Dengan Variasi Media Pendingin Terhadap Nilai Kekerasan Dan Struktur Mikro Pada Baja Karbon Sedang Ningrum, Dina Restia; Suka, Ediman Ginting; Suprihatin, S
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v2i1.1255

Abstract

Telah dilakukan penelitian dengan variasi media pendingin terhadap nilai kekerasan dan struktur mikro pada baja pegas daun. Baja pegas daun dilakukan proses heat treatment pada temperatur 780oC selama 20 menit. Setelah baja langsung didinginkan secara cepat (quenching)dengan media pendinginan yang berbeda yaitu udara, air, air garam, dan oli. Sampel hasil proses heat treatmentdilakukan uji komposisi kimia, uji kekerasan, dan uji struktur mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian komposisi kimia, baja pegas daun termasuk baja karbon sedang (0,57567% C), setelah proses heat treatmenttidak mengalami perubahan komposisi. Ujikekerasan nilai rata-rata tertinggi pada sampel yang menggunakan quenching air garam 61.25 HRC, nilai terendah pada sampel quenching udara 22.94 HRC, untuk quenching air sebesar 59.45 HRC dan untuk quenching oli58.54 HRC. Hasil struktur mikro pada sampel quenching udara menghasilkan butir-butir ferit dan perlit kasar sedangkan pada sampel quenching air, air garam, dan oli menghasilkan butir-butir martensit dan austenite sisa halus.
Pengaruh Konsentrasi Larutan Asam Klorida Tanpa dan dengan Inhibitor Kalium Kromat 0,2% Terhadap Laju Korosi Baja Api 5l Grade B Psl1 Killeainda, Elda Sefti; Suka, Ediman Ginting; Suprihatin, S
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v3i1.1283

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh konsentrasi larutan asam klorida tanpa dan dengan inhibitor kalium kromat 0,2% terhadap laju korosi baja API 5L Grade B PSL1. Pengambilan data meliputi uji komposisi kimia, analisis laju korosi, analisis XRD (X-Ray Diffraction), analisis SEM (Scanning Electron Microscopy) dan EDS (Energy Dispersive Spectroscopy). Hasil uji komposisi kimia menunjukkan baja API 5L Grade B PSL1 merupakan baja paduan rendah (unsur paduan
Pengaruh Titania yang Didoping Sulfur terhadap Ukuran Partikel Fadilah, Siti; Manurung, Posman; Suka, Ediman Ginting
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v4i1.1315

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh titania (TiO2) yang didoping sulfur terhadap ukuran butiran partikel. Titania disintesis dengan metode sol gel dan kemudian dikalsinasi pada 400 oC. Titania yang didoping sulfur (S-TiO2) dibuat dengan komposisi tween-80 4 gr; isopropanol 40,15 mL; titanium isopropoksida 3,4 ml dengan variasi H2SO4 0 ml untuk TiO2 dan 5 ml untuk S-TiO2. Hasil analisis TEM menunjukkan ukuran butiran partikel titania tanpa dan doping sulfur masing-masing adalah sekitar (13,14 ± 0,67) nm dan (10,14 ± 0,52) nm.
Pembentukan Fase Bahan Superkonduktor Bi-2223 dengan Doping Pb (BPSCCO-2223) pada Kadar Ca = 2,10 dengan Variasi Suhu Sintering Suprihatin, S; Suka, Ediman Ginting; Reviana, Febri
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v2i1.1258

Abstract

Sintesis superkonduktor BSCCO-2223 dengan doping Pb (BPSCCO-2223) pada kadar Ca = 2,10 telah dilakukan dengan metode padatan. Sintesis dilakukan selama 10 jam pada suhu kalsinasi 800oC dan selama 20 jam pada suhu sintering yang bervariasi yaitu 840oC, 845oC, 850oC, dan 855oC. Variasi dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu sintering terhadap pembentukan fase bahan superkonduktor yang dilihat berdasarkan fraksi volume, impuritas, dan derajat orientasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu sintering dapat meningkatkan fraksi volume dan menurunkan impuritas. Fraksi volume BPSCCO-2223 yang relatif tinggi adalah 86,80% pada suhu sintering 855oC. Sedangkan fraksi volume terendah adalah 76,88% pada suhu sintering 840oC. Derajat orientasi tertinggi adalah 47,87% pada suhu 850oC. Sedangkan derajat orientasi terendah adalah 37,28% pada suhu 845oC. Berdasarkan hasil SEM diinformasikan bahwa semua sampel telah menunjukkan lapisan-lapisan yang tersusun searah (terorientasi) dengan ruang kosong antara lempengan (void) relatif kecil.
Pengaruh Variasi Konsentrasi Asam Klorida Terhadap Laju Korosi Baja Karbon Rendah Astm A 139 Tanpa Dan Dengan Inhibitor Kalium Kromat 0,2% Septianingsih, Dwi; Suka, Ediman Ginting; Suprihatin, S
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v2i2.1269

Abstract

Telah dilakukan uji laju korosi pada baja karbon rendah ASTM A 139 menggunakan metode inhibisi, yang merupakan salah satu metode pengendalian korosi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asam klorida (HCl) terhadap laju korosi baja karbon rendah ASTM A 139 tanpa dan dengan inhibitor kalium kromat 0,2%. Sampel disensitisasi pada suhu 650°C dengan waktu penahanan selama 1 jam yang diikuti dengan pendinginan secara lambat sampai mencapai suhu ruang. Kemudian sampel dikorosi dalam lingkungan HCl 5%, 10% dan 15% selama 96 jam pada suhu ruang. Metode yang digunakan untuk menghitung laju korosi adalah metode pengurangan massa dan karakterisasi dilakukan menggunakan SEM (Scanning Electron Microscopy), XRD (X-Ray Diffraction) dan EDS (Energy Dispersive Spectroscopy). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju korosi baja ASTM A 139 meningkat dengan bertambahnya konsentrasi HCl, penambahan inhibitor kalium kromat 0,2% ke dalam lingkungan HCl mengurangi laju korosi baja ASTM A 139. Karakterisasi XRD dilakukan pada sampel ASTM/HCl:5(-) dan ASTM/HCl:15(-) yang kemudian dianalisis dengan program PCPDFWIN bernomor 06-0696 untuk Fe dan 35-0772 untuk Fe3C. Hasilnya menunjukkan kedua sampel terbentuk fasa Fe (besi) dan Fe3C (cementite). Hasil uji struktur mikro menggunakan SEM menunjukkan terjadi gumpalan, retakan, dan lubang pada permukaan sampel. Berdasarkan hasil uji EDS, produk korosi yang paling banyak terkandung dalam sampel adalah FeO.
Variasi Suhu Sintering dalam Sintesis Superkonduktor Bi-2212 dengan Doping Pb (BPSCCO-2212) pada Kadar Ca = 1,10 Sari, Meli Ratna; Suprihatin, S; Suka, Ediman Ginting
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v2i1.1259

Abstract

Bahan superkonduktor BPSCCO-2212 dengan kadar CaCO3 1,10 fraksi mol telah disintesis dengan metode reaksi padatan (solid state reaction method). Sintesis dilakukan selama 10 jam pada suhu kalsinasi (Tk) 800oC dan sintering selama 20 jam dengan variasi suhu (Ts) 815oC, 820oC, 825oC, dan 830oC. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh variasi suhu sintering terhadap tingkat kemurnian fase superkonduktor Bi-2212 yang terbentuk (fraksi volume (Fv), derajat orientasi (P), dan impuritas (I)). Hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan XRD (X-Ray Diffraction) dan SEM (Scanning Electron Microscopy). Hasil analisis XRD menunjukkan variasi suhu sintering cenderung meningkatkan fraksi volume (Fv). Fraksi volume (Fv) pada Ts=815°C diperoleh 72,39%, Ts=820°C diperoleh 74,56%, Ts=825°C diperoleh 87,34%, dan Ts=830°C diperoleh 90,10%. Sedangkan derajat orientasi (P) pada Ts=815°C diperoleh 53,13%, Ts=820°C diperoleh 55,97%, Ts=825°C diperoleh 59,31%, dan Ts=830°C diperoleh 42,43%. Fraksi volume (Fv) relatif baik pada sampel yang disintering dengan Ts= 830°C yaitu 90,10%. Sedangkan derajat orientasi (P) relatif baik pada sampel dengan Ts=825°C yaitu 59,31%.