Articles

Found 2 Documents
Search

PENGUJIAN EFEKTIVITAS CAPSICUM SEBAGAI SUMBER CAPSAICIN KO-ANESTESI PADA ANESTESI LOKAL Lokaria, Aldian Mulyanto; Ridwan, Muhammad; Febry, Muhamad; Oenzil, Fadil
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v38.i2.p73-79.2015

Abstract

AbstrakAnestesi lokal bekerja dengan memblok sel saraf sensorik rasa sakit (nosiseptor) dan sel saraf lain, sehingga diperlukan Capsaicin pada cabai sebagai ko-anestesi agar obat anestesi lokal bekerja spesifik pada nosiseptor. Beragam varietas cabai menuntut adanya penelitian untuk mengetahui jenis cabai yang tepat sebagai sumber Capsaicin ko-anestesi, hubungan dengan peningkaan kadar Capsaicin, dan pengaruh terhadap waktu kerja obat anestesi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain pre and post test design. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biota Sumatera Universitas Andalas dan di Laboratorium Hewan Fakultas Kedokteran Unand selama 3 bulan. Sampel penelitian ini adalah tikus (Rattus novergicus) jantan dari galur Sprague Dawley dengan berat 250-350 gram, sebanyak 24 ekor dibagi 8 kelompok. Tiap kelompok mendapatkan perlakuan berupa pemberian Capsaicin dari jenis cabai dengan kadar yang berbeda. Hasil penelitian terdapat perbedaan waktu munculnya efek sensorik (p 0,020) dan motorik (p 0,001) antar kelompok perlakuan. Kelompok C.frutescens 5% tercepat dalam menghentikan bloking saraf motorik (3,33 menit), sedangkan kelompok C.frutescens 10% terbaik dalam mempengaruhi lama bloking saraf sensorik (53,67 menit). Dimana peningkatan kadar berbanding lurus dengan hasil anestesi dan jenis cabai dengan kadar yang berbeda juga mempengaruhi lama waktu kerja obat anestesi.Abstract Local anesthesia works by blocking pain sensory nerve cells (nociceptors) and other nerve cells, it's need capsaicin in chili as co-anesthesia so that local anesthesia specific work on nociceptors only. The diversity of chili, demand more research to determine the most appropriate type of chili as a source of capsaicin co-anesthesia. This is a pre and post test design experimental research. Which each groups is given of Capsaicin from different chili types and concentration. There are difference time in emergence of sensory effects (p 0.020) and motor effects (p 0.001) between groups. Group of C.frutescens 5% is the fastest group in stopping of the motor nerve blocking (3.33 minutes), while group of C.frutescens 10% is best group in influencing long-blocking sensory nerves (53.67 minutes). Thus the increased concentration is linear correlation to the results of anesthesia and the types of chili with different concentration affect the work time of anesthesia.
Pengaruh Pemberian Kortikosteroid Terhadap Proses Penyem-buhan Luka pada Mencit (Mus Musculus) Febry, Muhamad; Asri, Aswiyanti; Isrona, Laila
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.917 KB)

Abstract

Latar belakang Proses penyembuhan luka terjadi melalui beberapa tahapan dan dipengaruhi berbagai faktor lokal dan sistemik seperti benda asing, nutrisi, konsumsi obat-obatan. Kortikosteroid banyak digunakan secara bebas oleh masyarakat untuk berbagai tujuan. Penggunaan kortikosteroid dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka, dengan cara menurunkan proses pembentukan fibroblas, menurunkan jumlah gerakan dan fungsi leukosit, mengurangi pergerakan polimorfonuklear (PMN) keluar dari kompartemen vaskular, dan mengurangi jumlah sirkulasi limfosit, monosit, dan eosinofil, terutama dengan meningkatkan gerakan sel radang keluar dari sirkulasi. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan proses penyembuhan luka secara histopatologi pada mencit (Mus musculus) yang diberi kortikosteroid dengan jangka pemberian yang berbeda. Metode Penelitian ini adalah penelitian ekserimental dengan desain post test only controlled group yang menggunakan 18 ekor mencit putih (Mus musculus) yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol, perlakuan 1 dan perlakuan 2. Kelompok perlakuan 1 diberikan kortikosteroid dalam bentuk preparat deksametason dengan dosis 16 mg/kg/bb selama 10 hari, sedangkan kelompok perlakuan 2 diberikan deksametason dosis yang sama, selama 30 hari. Pada hari terakhir pemberian deksametason, semua kelompok, termasuk kontrol dilakukan luka insisi di punggung sepanjang 2 cm. Setelah hari ke-9 pembuatan luka, mencit diterminasi untuk diambil jaringan luka, dan dilakukan pemeriksaan histopatologik untuk menilai pembentukan jaringan granulasi dengan menghitung jumlah pembuluh darah baru, fibroblast dan sel radang menggunakan mikroskop cahaya pembesaran 400 kali pada 3 lapangan pandang. Hasil Neovaskularisasi yang terbentuk pada kelompok kontrol lebih sedikit dibandingkan kelompok perlakukan, sebaliknya jumlah fibroblast lebih banyak ditemukan pada kelompok kontrol. Jumlah netrofil pada kempok kontrol lebih sedikit dibandingkan kelompok perlakuan dan sebaliknya jumlah limfosit lebih banyak ditemukan pada kelompok kontrol dibanding perlakuan. Setelah dilakukan uji statistik menggunakan uji One Way ANOVA didapatkan perbedaan bermakna antar kelompok pada jumlah neovaskuler, fibroblas, neutrofil, limfosit, berturut-turut 0,007; 0,025; 0,009;