Isdiyanto, Rochman
P3TKEBTKE

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

REKAYASA DAN UJI KINERJA REAKTOR BIOGAS SISTEM COLAR PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA Isdiyanto, Rochman; Hasanudin, Udin
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 9, No 1 (2010): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.992 KB)

Abstract

Cover Lagoon Anaerobic Reactor (CoLAR) atau reaktor anaerobik tertutup telah dapat diterapkan sebagai teknologi pengolahan air limbah industri tapioka yang menghasilkan biogas. Kegiatan kerekayasaan pengembangan bioreaktor sistem CoLAR ini bertujuan untuk menyediakanbiogas sebagai energi terbarukan di lingkungan industri tapioka. Bioreaktor sistem CoLAR terbuat dari bahan geomembran dengan kapasitas 3.600 m3 mampu menampung air limbah dengan laju alir150 m3 per hari. Air limbah akan mengalami proses fermentasi anaerobik dengan waktu tinggal hidrolik selama 20 hari. Hasil pengamatan pada uji kinerja bioreaktor diketahui bahwa bioreaktor CoLAR yang diterapkan dapat bekerja dengan baik. Hal ini ditandai dengan menurunnya nilai rata-rata Total Chemical Oxygen Demand (T-COD) sebesar 70,3 %, yaitu dari 9.011 mg/liter turun menjadi 2.680 mg/liter atau sebesar 0,317 gr COD/Liter/hari atau 949,6 kg COD/150 m3/hari. Sistem bioreaktor mampu menghasilkan rata-rata produksi biogas sebesar 485,4 m3/hari dengankandungan metana sebesar 58,8 %. Kualitas biogas tersebut secara teknis dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan.
PROSPEK PEMANFAATAN BIOGAS DARI PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI TAPIOKA Wintolo, Marhento; Isdiyanto, Rochman
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 10, No 2 (2011): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi produksi biogas telah dapat diterapkan pada instalasi pengolahan air limbah industri tapioka. Pengolahan air limbah dengan kapasitas 150 m3 mampu menghasilkan biogas sebanyak 485,4 m3 per hari. Dari hasil analisa biogas, diperkirakan setiap 1 m3 limbah dapat menghasilkan 1,88 m3 gas metana. Bila tidak dicegah, gas metana ini akan teremisi bebas dan menambah terjadinya peningkatan konsentrasi di atmosfir yang berakibat pada meningkatnya efek rumah kaca. Gas ini memiliki nilai ekonomi bila digunakan sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah untuk keperluan memasak rumah tangga. Gas metana bisa juga dipergunakan sebagai bahanbakar generator yang akan mampu memproduksi sekitar 578 kWh energi listrik.
PEMANFAATAN DATA SRTM DEM DAN TRMM UNTUK MEMBUAT PETA AREA POTENSI MIKROHIDRO INDONESIA Soekarno, Hari; Dictus, Benny F.; Isdiyanto, Rochman
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 11, No 1 (2012): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peta area potensi Mikro Hidro ini dibangun dengan cara menggabung 6 layer jenis peta yang meliputi : 1. Peta Slope, 2. Peta Curah Hujan, 3. Peta Sungai, 4. Peta Daerah Aliran Sungai (DAS), 5. Peta Batas Administrasi, 6. Peta Lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Peta Slope dan Peta Curah Hujan merupakan peta utama, sedangkan ke empat peta lainnya merupakan peta penunjang. Peta utama dibuat dengan cara memanfaatkan data Shuttle Radar Tophography Mission Digital Elevation Model (SRTM DEM) dan data Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM), sedangkan peta penunjang diperoleh dari instansi terkait. Proses membuat layer peta Slope berawal dari Data SRTM DEM resolusi 30 meter yang diubah menjadi peta kontur dengan bantuan software Global Mapper. Selanjutnya peta kontur diubah menjadi peta slope menggunakan software Argis. Sedangkan layer peta Curah Hujan dibuat dari data TRMM resolusi 0.25o yang semula dalam bentuk image kemudian diubah ke dalam bentuk kontur. Peta potensi mikrohidro yang dihasilkan dapat ditampilkan dalam dua bentuk yaitu dalam bentuk peta seluruh Indonesia atau dalam bentuk grid tertentu sesuai dengan wilayah yang diinginkan. Micro Hydro area potential maps were constructed by combining types of six layer maps that include: 1. Slope maps, 2. Rainfall maps, 3. Maps of the River, 4. Watershed maps, 5. Administrative Boundary maps, 6. Location maps of MHP. Slope and rainfall maps is the main map, while the four other maps are supporting maps. The main map is created by utilizing the data SRTM DEM and TRMM data, while supporting maps obtained from the relevant authorities. The process of making slope maps layer, originated from 30 meter resolution DEM SRTM data is converted into a contour map with the help of the Global Mapper software. Which can be converted into a slope map using the Argis software. While the Rainfall maps layer is made of the TRMM data at 0.25o resolution, originally in the form of image is then converted into a contour shape. Maps of potential micro-hydro area generated can be displayed in two forms, namely in the form of a map of the whole of Indonesia or in the form of a specific grid according to the desired area. 
PENGARUH WAKTU TINGGAL HIDROLIK TERHADAP PRODUKSI BIOGAS Isdiyanto, Rochman
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Vol 8, No 2 (2009): KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI TERBARUKAN
Publisher : P3TKEBTKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengolahan limbah cair industri tapioka secara fermentasi anaerobik telah dapat diterapkan sebagai teknologi produksi biogas. Proses produksi biogas dipengaruhi oleh Waktu Tinggal Hidrolik, yaitu waktu yang diperlukan untuk proses dekomposisi bahan organik dalam limbah cair industri tapioka. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi optimal proses dekomposisi anaerobik limbah untuk menghasilkan biogas dengan melakukan rekayasa penentuan Waktu Tinggal Hidrolik (WTH) yang bervariasi, yaitu 20, 25, 30 dan 50 hari.Hasil pengamatan menunjukan bahwa rata-rata Laju Penyisihan Total Chemical Oxigen Demand (T-COD) pada WTH 20 hari diketahui sebesar 2.257,5 gr COD/hari atau 82,4% dengan rata-rata Laju Produksi Biogas paling tinggi, yaitu 1.248,9 liter/hari, atau 5 liter/liter air limbah, atau 0,55 liter/gram COD. Komposisi biogas yang dihasilkan pada WTH 20 hari memiliki kandungan CH4 56,22%. Biogas dapat digunakan dengan baik sebagai energi alternatif.