Articles

Found 6 Documents
Search

STUDI PERBANDINGAN EFEK FOTOKATALISIS Fe2O3-TiO2 HASIL EKSTRAKSI ILMENIT BANGKA DAN P-25 DEGUSSA UNTUK APLIKASI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TPA CILOWONG[The Photocatalytic Effect of P-25 Degussa and Fe2O3-TiO2 Derived from Bangka- Indonesia Ilmenite Extraction for Waste Water Treatment of Leachate on the Landfill Cilowong] Lalasari, Latifa Hanum; Yuwono, Akhmad Herman; Firdiyono, Firdiyono; Andriyah, Lia; N, Elfi; Harjanto, Sri; Suharno, Bambang
Metalurgi Vol 27, No 3 (2012): Metalurgi Vol.27 No.3 Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.211 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v27i3.235

Abstract

STUDI PERBANDINGAN EFEK FOTOKATALISIS Fe2O3-TiO2 HASIL EKSTRAKSI ILMENITBANGKA DAN P-25 DEGUSSA UNTUK APLIKASI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TPACILOWONG. Telah dilakukan penelitian penurunan kadar BOD5, COD, dan TDS dari lindi sampah tempatpembuangan akhir (TPA) Cilowong dengan menggunakan katalis Fe2O3-TiO2 dari hasil proses ekstraksi ilmenitBangka Indonesia dan TiO2 P-25 Degussa (komersial). Proses dilakukan dalam reaktor fotokatalitik berukuran30 x 15 x 20 cm dengan radiasi sinar UV 50 watt selama 90 menit pada temperatur kamar dan setiap 15 menitdiambil sampel untuk dilakukan analisa BOD5, COD, dan TDS. Variabel percobaan yang digunakan adalah rasiovolume (v/v) lindi/H2O sebesar 1/4; 1/8; 1/12; 1/16 dengan jumlah katalis yang digunakan masing-masingsebanyak 1 gram. Hasil penelitian pada rasio volume (v/v) lindi/H2O sebesar 1/16 menunjukkan penurunanBOD5, COD, TDS masing-masing sebesar 45; 90,43; 100 % untuk katalis Fe2O3-TiO2 dan sebesar 80,6; 75; 100% untuk TiO2 P-25 Degussa. Penelitian juga memberikan gambaran bahwa mineral Ilmenit Bangka Indonesiaberpotensi besar sebagai bahan baku dalam pembuatan katalis Fe2O3-TiO2. AbstractThe current work presents the results of investigation on the decreasing levels of BOD5, COD, TDS ofleachate on the landfill (TPA) Cilowong by using Fe2O3-TiO2 catalyst derived from the extraction process ofBangka Indonesia ilmenite as well as commercial TiO2 P-25 Degussa catalysts. The measurement wascarried out in a photocatalytic reactor of 30 x 15 x 20 cm equipped with a 50 watt UV radiation. The processwas performed for 90 minutes at room temperature, and the samples were taken every 15 min for BOD,COD, and TDS analyses. The ratio of leachate to H2O (%v) was varied as 1/4; 1/8; 1/12 and 1/16, with theamount of catalyst used was 1 gram. The result on ratio of leachate to H2O of 1/16 showed the decrease inBOD5, COD, TDS with the use of Fe2O3-TiO2 catalysts by 45; 90.43 and 100% for Fe2O3-TiO2 catalysts,while with the use of Degussa P-25 TiO2 catalysts the decrease in BOD5, COD, TDS reached by 80.6; 75 and100%, respectively. On the basis of findings, it is shown that Ilmenite Bangka Indonesia has great potentialas a raw material for synthesizing the Fe2O3-TiO2 catalysts.
Ekstraksi Litium dari β – Spodumen Hasil Dekomposisi Batuan Sekismika Indonesia Menggunakan Aditif Natrium Sulfat Natasha, Nadia Chrisayu; Lalasari, Latifa Hanum; Rohmah, Miftakhur; Sudarsono, Johny Wahyuadi
Metalurgi Vol 33, No 2 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 2 Agustus 2018
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.74 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v33i2.429

Abstract

Spodumen merupakan salah satu mineral yang terkandung di dalam batuan sebagai sumber litium. Mineral bahan baku litium ditemukan di alam dalam bentuk α – spodumen. Syarat utama dalam melakukan ekstraksi litium dari spodumen dengan metode leaching adalah fasa β – spodumen. Hal tersebut dapat terjadi karena fasa tersebut mempunyai poros yang membuatnya menjadi lebih reaktif jika dibandingkan dengan fasa α – spodumen.  Pembentukan fasa β – spodumen diperoleh dari batuan sekismika Indonesia dengan metode roasting menggunakan natrium sulfat sebagai aditif pada 650, 700, 750 dan 850 ºC selama 20, 40 dan 60 menit.  Proses leaching dilakukan untuk mengetahui pengaruh fasa yang terbentuk terhadap persen ekstraksi litium. Variasi perbandingan solid dan liquid pada proses leaching yaitu 1 : 15, 1 : 10, 1 : 5, 1 : 2 dan 1 : 1. Proses leaching dilakukan menggunakan aquadest selama 1 jam pada temperatur kamar. Analisis Simultaneous Thermal Analysis (STA) digunakan untuk menentukan temperatur reaksi antara sekismika dan natrium sulfat pada saat proses roasting. Analisis X – ray diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscope (SEM) dilakukan untuk analisis secara fisik dalam mengetahui perubahan fasa yang terbentuk, morfologi dan mapping. Sedangkan komposisi dari sekismika ditentukan dengan Inductively Coupled Plasma (ICP). Di dalam batuan sekismika, Kebumen Indonesia mengindikasikan adanya kandungan mineral spodumen. Fasa β – spodumen mulai terbentuk pada temperatur 700 ºC dan waktu roasting 20 menit namun fasa tersebut berubah pada 750 ºC dan waktu roasting 40 menit menjadi sanidine (AlLiO8Si3). Persen ekstraksi optimum litium yang diperoleh adalah 70,6% pada 700 ºC dan waktu roasting 40 menit.
PENGARUH PENCAMPURAN DAN RASIO PREKURSOR/DOPAN DALAM PEMBUATAN LAPISAN TIPIS FLUORINE DOPED TIN OXIDE (FTO) BERBASIS TIMAH (II) KLORIDA[The Effect of Mixing Condition and Dopant/Precursor Ratio in Fabrication of Fluorine Doped Tin Oxide (FTO) Thin Film Based on Tin (II) Chloride] Lalasari, Latifa Hanum
Metalurgi Vol 30, No 3 (2015): Metalurgi Vol. 30 No. 3 Desember 2015
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.299 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v30i3.68

Abstract

Flourine-doped tin oxide (FTO) merupakan salah satu oksida yang umum digunakan dalam pelapisan pada kaca yang diberi perlakuan tertentu agar dapat menghantarkan listrik. FTO ini diharapkan dapat menggantikan fungsi indium tin oxide (ITO) yang  bahan bakunya sangat mahal dan tersedia dalam jumlah yang terbatas. Percobaan pendahuluan tentang pembuatan lapisan tipis F-SnO2 dilakukan menggunakan kombinasi metode sol gel dan dip coating. Percobaan ini menggunakan bahan baku timah (II) klorida hidrat (SnCl2.2H2O) sebagai prekursor dan ammonium florida (NH4F) sebagai doping. Hasil percobaan menunjukkan bahwa lamanya waktu pencampuran antar prekursor dan doping tidak begitu  mempengaruhi kestabilan larutan. Faktor yang signifikan mempengaruhi adalah kondisi pencampuran antara prekursor dan doping. yang terkontrol. Lapisan tipis SnO2 yang dihasilkan dalam percobaan ini mempunyai morfologi heksagonal tidak teratur dan fasa Sn4OF6. AbstractFluorine-doped tin oxide (FTO) is an oxide that is commonly used in the coating on the glass treated aparticular treatment in order to be able to conduct electricity. FTO is expected to replace indium tin oxide(ITO) whose raw materials are very expensive and available in limited quantities. Preliminary experimentson the manufacture of F-SnO2 thin film done with using combinations of sol gel method and dip coating.This experiment used the raw material of tin (II) chloride hydrate (SnCl2.2H2O) as precursors and ammoniumfluoride (NH4F) as doping. The results showed that the processing time between the mixing of precursors anddoping was not so affect the stability of the solution. The significant factor affecting was the concentrationratio of the dopant/precursor and the conditions of mixing between the precursors and doping. Theconcentration ratio of the dopant/precursors of 10% produced the most stable conductive solution(US-1-½-½) with a thin layer of FTO has generated more regular hexagonal morphology, uniform and phaseof Sn4OF6.
Pengaruh Waktu Deposisi dan Temperatur Substrat Terhadap Pembuatan Kaca Konduktif FTO (Fluorine doped Tin Oxide) [The Influence of Deposition Time and Substrate Temperature in Manufacturing Process of FTO (Fluorine doped Tin Oxide) Conductive Glass] Arini, Tri; Lalasari, Latifa Hanum; Yuwono, Akhmad Herman; Firdiyono, F; Andriyah, Lia; Subhan, Achmad
Metalurgi Vol 32, No 1 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 1 April 2017
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.782 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v32i1.160

Abstract

Manufacturing FTO (fluorine-doped tin oxide) is expected to replace ITO (indium tin oxide) because the process is simple and relatively low cost. Tin chloride precursor with fluorine doping is prepared via sol-gel method with a coating process with spray pyrolisis technique can be considered as a new breakthrough in DSSC device structures. This experiment uses the raw material tin (II) chloride hydrate (SnCl2.2H2O) as precursors and ammonium fluoride (NH4F) as a doping ratio of 6% wt with variation in temperatures of 250, 300, 350, 400 °C and time resistivities of 5, 20, 30 and 40 minutes. The results showed that the longer deposition time decreasing value of conductive glass resistivity. This condition would reduce the value of transmittance. High transmittance and low resistivity obtained on the variation of deposition time 5 minutes with a substrate temperature of 300 °C with a resistivity value of 3.16 x 10-4 Ω.cm and transmittance value of 86.74%AbstrakPembuatan FTO (flourine-doped tin oxide) ini diharapkan dapat menggantikan fungsi ITO (indium tin oxide) karena proses pembuatan yang sederhana dan biaya yang relatif rendah. Prekursor timah klorida dengan doping flourine yang dipreparasi melalui metode sol-gel dengan proses pelapisan dengan teknik spray pyrolisis dapat dipertimbangkan sebagai suatu terobosan baru di dalam struktur device sel surya tersensitasi zat pewarna. Percobaan ini menggunakan bahan baku timah (II) klorida hidrat (SnCl2.2H2O) sebagai prekursor dan amonium florida (NH4F) sebagai doping dengan rasio 6 %berat dengan variasi temperatur 250, 300, 350, 400 °C dan dengan variasi waktu 5, 20, 30, dan 40 menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semakin lama waktu deposisi maka akan semakin kecil nilai resistivitas kaca konduktif. Namun semakin lama waktu deposisi akan mengurangi nilai transmitansi. Pada percobaan ini menghasilkan transmitansi tinggi dan resistivitas rendah diperoleh pada variasi waktu deposisi 5 menit dengan temperatur substrat 300 °C dengan nilai resitivitas 3,16 x 10-4 Ω.cm dan nilai transmitansi 86,74%.
Reduksi Si dan Al pada Mineral Ilmenit dengan Metode Dekomposisi Basa Natrium Hidroksida Yustanti, Erlina; Andini, Andini; Lalasari, Latifa Hanum
Jurnal Teknika Vol 14, No 1 (2018): Edisi Juni 2018
Publisher : Teknika - Jurnal Sains dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.97 KB)

Abstract

Ilmenit merupakan salah satu mineral oksida yang belum optimal pengolahannya. Indonesia memiliki cadangan ilmenit cukup besar 40 juta ton diantaranya di Kalimantan Selatan. Pengolahan ilmenit menjadi titanium dioksida menjadi sangat penting karena titanium oksida memiliki banyak aplikasi antara lain sebagai katalis dapat mendegradasi polutan organik dalam air. Proses dekomposisi basa ilmenit menggunakan natrium hidroksida bertujuan untuk menghilangkan pengotor seperti Al dan Si. Metode dekomposisi basa dilakukan dengan mencampurkan ilmenit dan natrium hidroksida pad rasio berat 1 : 1,2 dilanjutkan roasting variasi temperatur 500°C, 600°C, 700°C, 800°C, dan 900°C selama 2 jam. Hasil roasting natrium aluminat dan natrium silikat dapat larut melalui melalui leaching air sehingga dapat dipisahkan. Hasil penelitian menunjukkan reduksi Al paling optimum pada roasting 500°C dihasilkan % ekstraksi 45,195% sedangkan reduksi Si optimum  pada 900°C dengan % ekstraksi 98%. Kandungan titanium meningkat dari 42,35% menjadi 49,61%.
UTILIZATION OF INDONESIAN LOCAL STANNIC CHLORIDE (SnCl4) PRECURSOR IN THE PROCESS OF MAKING FLUORINE- DOPED TIN OXIDE (FTO) CONDUCTIVE GLASS Arini, Tri; Lalasari, Latifa Hanum; Andriyah, Lia; Fahmi, Gennady; Firdiyono, F.
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 20, No 2: JANUARY 2019
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.966 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2019.20.2.5469

Abstract

UTILIZATION OF INDONESIAN LOCAL STANNIC CHLORIDE (SnCl4) PRECURSOR IN THE PROCESS OF MAKING FLUORINE-DOPED TIN OXIDE (FTO) CONDUCTIVE GLASS. Thin layer of fluorine- doped tin oxide (FTO) conductive glass has been deposited on a glass substrate heated at a temperature of 350°C using the ultrasonic spray pyrolysis nebulizer method with variations in fluorine doping and substrate temperatures. This experiment uses the raw material of Indonesian local stannic chloride (SnCl4) (PT Timah Industri) as a precursor with a temperature variation of 250, 300, 350, 400°C. The structure and morphology of the optical and electrical properties of all the thin layers have been examined. XRD results show that all thin layers have a tetragonal crystal structure. In this experiment, there is a significant influence on the role of fluorine doping on resistivity and transmittance values. With the addition of 2% wt doping, the resistivity and transmittance values decrease. The optimum value is obtained by doping 2 wt%, substrate temperature of 350°C with a resistivity value of 9.28.10-5 Ω.cm and transmittance value of 88%.