Syahra, Rusydi
P2KK LIPI

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimizing the Use of Local Potential to Create Sustainable Rural Community Development Syahra, Rusydi
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 2, No.2 (1999)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.637 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v2i2.740

Abstract

Pembangunan ekonomi nasional yang terlalu mengandalkan sumberdaya dan bantuan luar negeri tanpa disertai upaya yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan kemampuan dan sumberdaya yang dimiliki sendiri telah mengalami kegagalan total begitu krisis moneter yang melanda sejak pertengahan tahun 1997 yang lalu. Strategi dan kebijakan pembangunan yang mengutamakan laju pertumbuhan yang tinggi melalui pemerian konsesi terlalu berlebihan pada usaha-usaha berskala beesar (konglomerasi) itu belakangan disadari sebagai suatu kekeliruan, karena telah menganaktirikan usaha-usaha kecil berbasis pertanian yang ternyata mampu bertahap menghadapi krisis. Pergesran penekanan strategi pembangunan dari produksi untuk pertumbuhan yang tinggi (production-centered development) kea rah people centered development atau yang popular dengan sebutan “ekonomi kerakyatan”, yangdianggap sebagai sebuah langkah penting untuk mengoreksi kekliruan tersebut, tidaklah dengan sendirinya akan dapat berhasil. Keterbatasan kemampuan wirausaha dan kebiasaan yang sudah mengakar dalam masyarakat yang menganggap setiap bantuan sebagai hadiah merupakan dua faktor utama yang potensial dapat menyebabkan terjadinya kegagalan. Tulisan ini yang didahului dengan pembahasan tentang pentingnya penggunaan pendekatan pengembangan komunitas atau community development, diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya untuk mengatasi terulangnya kegagalan serupa. Didasarkan pada kaji tindak dengan intervensi terbatas di sebuah desa di Kabupaten Lebak, Jawa Barat, tulisan ini menyarankan perlunya ditumbuhkan melalui pendekatan dari bawah (bottom-up approach) suatu bentuk kelembagaan pada tingkat desa yang berfungsi dan bertanggungjawab mengelola setiap dana bantuan dari manapun sumbernya yang dimaksudkan untuk pengembangan usaha ekonomi rakyat. Untuk menegaskan statusnya sebagai milik bersama dan fungsinya guna melayani kepentingan seluruh warga, dalam akte pendiriannya, lembaga semacam itu, apakah berbentuk yayasan, koperasi, lembaga pengkreditan (credit union) perlu mencantumkan pembangunan komunitas desa secara terpadu dan berkelanjutan sebagai tujuan pokoknya.
FAKTOR-FAKTOR SOSIAL BUDAYA DALAM PENINGKATAN DAYA SAING : Kasus Industri Logam Di Sukabumi, Ceper, Tegal dan Pasuruan Syahra, Rusydi
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 6, No 1 (2004)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.909 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v6i1.200

Abstract

This article is aimed at reporting some socio-cultural factors that may have constrained the improvement of the competitive advantage of Indonesian small and medium enterprises (SME). Based on the data collected from metal industries in four locations, namely Sukabumi, Tegal, Ceper and Pasuruan, the study found that the products of these industries, especially automotive parts and components have not been not able to compete in local markets with those from China, not to mention those from Japan and other advanced industrial nations, both in quality and price. Using social capital approach in depicting the existing industries’ situation the study puts forward some important socialcultural factors that have contributed to the competitive disadvantage. These include: (1) the inability to depart from traditional way producing goods in which the quality of products is largely dependent on the skills of a master or “mpu” instead of systematic scientific knowledge as a characteristic in modern industries; (2) a subsistent mentality indicated by the reluctance to develop into a bigger industry which is beyond the controllability of the owner/manager; and (3) the reluctance to form and commit in an industrial association, while this kind of organization may prevent members from cut-throat competition as has prevailed until recently. The study concludes as long as the situation remains, the products of these industries will remain to stay in the lower segment of the market, and more importantly, these industries will have very little chance of becoming business partners and suppliers of parts and components for big assembling industries. This means that in the foreseeable future the local markets will still be flooded by imported metal industrial products, and foreign small and medium metal industries will still hold a dominant position as suppliers for local automotive assembling industries.