Rezi, Muhamad
IAIN Bukittinggi

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

SEKSUALITAS DALAM ALQURAN (tinjauan Deskriptif Analitis Ayat-ayat Alquran) Rezi, Muhamad; Zubir, Muhammad
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 1, No 1 (2017): Januari-Juni 2017
Publisher : IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/jh.v1i1.256

Abstract

Alquran is the last Holy Book which is sent down by Allah as the Guide Book for whole human-being. It concludes any aspects. Not only for Moslems, Alquran actually also aimed for any creatures in the universe. This is the actual meaning of rahmatan lil ‘âlamiyn (Islam comes as the mercy for all). To prove it, deep researches and develop observations are needed. Especially, it has to be done in Alquran as a main source of Islam. On of the aspect that has explained in Alquran is sexuality. Sexuality in this paper means anything related to sex such as human lust, genitals, and sexual contacts. In Alquran, terms of sexuality are mentioned in many verses in different surahs. This paper purposed to explain the Alquran verses of sexuality. The methodology that applied in this paper is library research with descriptive-analityc approach. Furthermore, this paper was explained by combining alquran exegesis explanation methods; Mawdhû’iy (Thematic) and Comparative (Muqâran). Alquran adalah Kitab suci terakhir yang diturunkan Allah untuk menjadi buku petunjuk bagi seluruh umat manusia dalam segala hal. Tidak hanya bagi umat Islam, Alquran sejatinya ditujukan bagi seluruh alam. Itulah yang dimaksud dengan Islam rahmatan lil ‘âlamiyn (Islam adalah berkah bagi seluruh alam). Untuk membuktikannya, diperlukan penelitian mendalam dan berkembang terhadap seluruh sumber-sumber keIslaman khususnya Alquran sebagai sumber utama. Salah satu aspek yang terpaparkan dalam Alquran adalah seksualitas. Seksualitas yang dimaksud adalah segala hal yang berhubungan tentang kelamin seperti nafsu seks, kelamin,hingga kontak kelamin. Di dalam Alquran, term-term terkait seksusalitas tersebut dijelaskan pada banyak ayat di surat-surat berbeda. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang ayat-ayat tersebut dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Tulisan ini juga bersifat penelitian pustaka dengan menggunakan metode penyajian tafsir Alquran kombinasi antara Tematik dan Komparatif.
PEMAHAMAN HADIS-HADIS RUKYAT HILAL DAN RELASINYA DENGAN REALITA ISBÂT RAMADHAN DI INDONESIA Rezi, Muhamad
Alhurriyah Vol 1, No 1 (2016): Januari - Juni 2016
Publisher : IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/alhurriyah.v1i1.484

Abstract

It has become customary that every Muslim anywhere in the world are obliged to fast during Ramadan. One of the annual problems that always appear at the Ramadan is the determination of the beginning and end of Ramadan by sighting the moon. On the orders of the Prophet Muhammad, the determination of Ramadan should be done at the end of the month of Sha'ban. The beginning and end of Ramadan is determined by the appearance of the crescent moon. Such activity is known by rukyat hilal. In its history, the Prophet explained that the methodology of the determination of the beginning and end of Ramadan is sighting the crescent moon with eyes. If sight is obstructed by natural phenomena such as cloud cover, the day of the month of Sha'ban accomplished to 30 days. Contemporary, classic visual method has been carried out with the use of modern tools. Problems often arise because of differences in the understanding the passages of sunnah related to this. Some considered that the hilal rukyat commanded by the Prophet Muhammad is rukyat fi'liyyah while others considered that it is more accurate to use rukyat 'Ilmiyyah with the arithmetic method of calculation (hisab). In Indonesia, the different interpretation and understanding that always makes a difference in executing the fasting and Idul Fitri.
MEROKOK DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM (Studi Nash-Nash Antara Haram Dan Makruh) Rezi, Muhamad; Sasmiarti, Sasmiarti; Helfi, Helfi
Alhurriyah Vol 3, No 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/alhurriyah.v3i1.534

Abstract

Rokok pada awalnya berupa tembakau yang dibakar dan dihisap melalui sebuah pipa. Kegiatan ini awalnya dilakukan pada saat berkumpulnya beberapa suku untuk mempererat hubungan antar suku yang berbeda. Di Indonesia, merokok sudah menjadi hal yang biasa secara turun temurun. Pada artikel ini, penulis akan mencoba untuk mengkaji hukum tentang merokok. Karena fenomena yang kita saksikan saat ini dirasa sudah cukup untuk membuktikan bahwa rokok sudah menjadi kebutuhan sebagian masyarakat indonesia saat ini dan ada juga yang memakainya sebagai sampingan saja. Berangkat dari berbagai dalil yang telah dipaparkan sebelumnya baik dari Alquran maupun Hadis serta beberapa pendapat Ulama tentang dalil-dalil tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa hukum merokok bersifat kasuistis. Adakalanya dapat dikatakan haram dan adakalanya bersifat makruh tanzih.
TUJUAN PENDIDIKAN DALAM LINGKUP KAJIAN TAFSIR TEMATIK PENDIDIKAN Muliati, Indah; Rezi, Muhamad
ISLAM TRANSFORMATIF : Journal of Islamic Studies Vol 1, No 2 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v1i2.475

Abstract

Pendidikan merupakan kegiatan terencana, yang di dalamnya terdapat berbagai komponen, karenanya pendidikan harus memiliki tujuan yang ingin di capainya. Alquran memberi perhatian penting terhadap pendidikan salah satunya adalah tujuan. Tujuan Pendidikan dalam Alquran jika dilihat dari tujuan, fungsi, dan tugas manusia dapat disimpulkan: (1) Ubudiyah, tujuan ini mengantarkan manusia sebagai subjek didik agar mampu mengarahkan prilakunya semata-mata untuk mengabdi kepada Allah. (2) khalifah fi al-Ardh, tujuan pendidikan pada bagian ini harus mampu memberikan dan membentuk pribadi manusia menjadi pribadi yang mampu mengemban misi memakmurkan bumi dengan acuan nilai-nilai Ilahiah. (3) Membina dan mengembangkan fitrah manusia, tujuan pendidikan pada bagian ini diarahkan untuk mampu mengintegrasikan seluruh potensi yang dimiliki manusia sebagai subjek didik, baik itu potensi jasmani maupun potensi rohani untuk mewujudkan sosok insan paripurna yang mampu melakukan dialektika aktif pada semua potensi yang dimilikinya. (4) Rahmatan lil’alamin, tujuan pendidikan mengantarkan subjek didik agar keberadaannya menjadi rahmat bagi segenap alam, baik bagi sesama manusia, hewan, dan alam sekitarnya dengan mengacu pada nilai-nilai Ilahiah. (5) Memperoleh kesejahteraan dunia dan akherat. Tujuan pendidikan dalam Alquran intinya adalah membina manusia sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifahnya dengan memaksimalkan potensinya untuk membangun dunia sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah.
PENDIDIKAN ORANG DEWASA YANG DIKEMBANGKAN RASULLULLAH Alfurqan, Alfurqan; Rahman, Rini; Rezi, Muhamad
ISLAM TRANSFORMATIF : Journal of Islamic Studies Vol 1, No 1 (2017): Januari-Juni 2017
Publisher : IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v1i1.327

Abstract

Rasulullah, Muhammad SAW, succeeded in changing the uncivilized society into the civilized one as well as the Jahiliyah society into the educated one. The key to the success was his appropriate teaching concept and his sincerity. There were some representative and dominant educational approaches and methods that were developed by Rasulullah, Muhammad SAW, in teaching his Shahabah as adults. One approach that he used was the philosophycal approach. Meanwhile, the methods that he used were the exemplary and affectionate methods. Rasulullah, Muhammad SAW telah berhasil membina masyarakat dari masyarakat yang paling biadab menjadi masyarakat yang paling beradab, dari masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang terdidik. Kunci keberhasilan pendidikan yang beliau lakukan adalah: konsep ajaran yang beliau sampaikan adalah ajaran yang benar dan tepat, kesungguhan dan keikhlasan beliau dalam melaksanakan tugas. Ada beberapa pendekatan dan metode pendidikan yang dipandang representatif dan dominan yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabat sebagai orang dewasa. Pendekatan yang digunakan salah satunya adalah pendekatan filosofis, sedang metode yang digunakan beliau diantaranya metode keteladanan, metode lemah lembut dan kasih sayang.
MTQ ; Antara Seni Membaca Alquran dan Politik Akomodasionis Pemerintah terhadap Umat Islam Handayana, Sri; Rezi, Muhamad
ISLAM TRANSFORMATIF : Journal of Islamic Studies Vol 2, No 2 (2018): Juli - Desember 2018
Publisher : IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/it.v2i2.747

Abstract

MTQ is a manifestation of Islamic culture and is constantly evolving. MTQ is also one of the government policies related to Muslims and even seems to accommodate the interests of Muslims. The author believes that MTQ can be investigated from various aspects. If viewed from a religious perspective, MTQ is one way to improve spiritual life. If viewed from an economic standpoint, MTQ can support economic development through exhibitions or bazaars held in the main arena. Whereas if it is highlighted with the political glasses of MTQ, perhaps on the one hand the government is accommodating towards Muslims. This paper attempts to describe MTQ and its ins and outs, then also attempts to analyze MTQ as a form of aesthetic reception of the Qur'an and the political dimension of MTQ. The effort to express the Koran aesthetically has actually emerged since the time of the Prophet Muhammad. One of the most popular stories is about the Islamic story of Umar ibn Khattab after hearing the reading of several verses of the Qur'an by his younger sister named Fatimah with her husband named Sa'id bin Zayd. Therefore MTQ is an opportunity to develop the art of reading the Qur'an, and an event to foster awareness to read and study the Qur'an.
ISBÂL DALAM PRESPEKTIF VARIASI HADIS Rezi, Muhamad
Jurnal Ulunnuha Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/ju.v5i1.558

Abstract

Di antara permasalahan etika berpakaian dalam Islam adalah Isbâl, yaitu memanjangkan pakaian sampai ke bawah mata kaki bahkan hingga menyapu jalan. Dalam Islam, Isbâl diperbolehkan secara mutlak bagi wanita. Namun bagi laki-laki masih diperdebatkan karena bisa saja disertai dengan kesombongan. Ada banyak hadis yang menjelaskan tentang perkara Isbâl dengan berbagai bentuk penjelasan. Sebagian ulama menilai bahwa Isbâl secara mutlak dilarang bagi laki-laki tetapi sebagian ulama lain menilai bahwa permasalahan mendasar dalam etika berpakaian adalah kesombongan.