JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 24069388     EISSN : 25808303
Jurnal ini adalah jurnal peer-review nasional, yang diterbitkan dua kali dalam membahas tentang topik-topik hasil penelitian di bidang pelayanan dan praktik kefarmasian, konsultasi masyarakat, teknologi kefarmasian serta disiplin ilmu kesehatan yang terkait dengan erat. Jurnal ini memfokuskan pada area-area berikut: 1. Farmasi Klinis 2. Farmasi Komunitas 3. Farmasetika 4. Kimia Farmasi 5. Farmakognosi 6. Fitokimia
Articles 42 Documents
Pengaruh Pengetahuan terhadap Penggunaan Obat Parasetamol yang Rasional dalam Swamedikasi (Studi pada Ibu Rumah Tangga di Desa Sumberpoh Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo) Oktaviana, Elys; Hidayati, Ika Ratna; Pristianty, Liza
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.146 KB) | DOI: 10.20473/jfiki.v4i22017.44-50

Abstract

Pendahuluan: Obat yang paling banyak digunakan untuk swamedikasi adalah parasetamol. Parasetamol digunakan untuk meredakan nyeri ringan atau sedang dan kondisi demam ringan. Tujuan: Mengetahui pengaruh pengetahuan  terhadap penggunaan obat parasetamol yang rasional dalam swamedikasi pada ibu rumah  tangga di Desa Sumberpoh Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasi analitik dengan pendekatan studi cross-sectional. Jumlah sampel adalah 84 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tertutup. Analisis ini menggunakan metode regresi linier deskriptif dan sederhana. Hasil: Hasil penelitian yaitu ibu rumah tangga yang memiliki pengetahuan baik (39%), cukup baik (51%), kurang baik dan tidak baik masing-masing (5%). Ibu rumah tangga dengan tindakan positif (58%), sedangkan dengan tindakan negatif (42%). Analisis regresi linier nilai signifikan 0,029 < 0,05, nilai t-hitung 2,217 > 1,663. Nilai Rsquare 0,057, nilai R (0,238), persamaan regresi Y = 16,898 + 0,800x. Kesimpulan:  Pengetahuan berpengaruh  terhadap penggunaan obat parasetamol rasional dalam swamedikasi  pada ibu rumah tangga  di Desa Sumberpoh Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga di desa Sumberpoh, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo disarankan dilakukan penyuluhan tentang penggunaan obat parasetamol yang rasional dalam swamedikasi.
Pengetahuan Siswa Lulusan SMA Terhadap Tugas Apoteker di Berbagai Bidang Kerja Kefarmasian Ratri, Dinda Monika Nusantara; Puspitasari, Arina Dery
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.466 KB) | DOI: 10.20473/jfiki.v4i22017.84-90

Abstract

Pendahuluan: Apoteker adalah profesi kesehatan yang kompeten terkait pengelolaan obat-obatan. Banyak upaya yang dilakukan oleh organisasi profesi agar peranan Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian lebih dirasakan kehadirannya. Siswa lulusan SMA merupakan calon mahasiswa yang akan meneruskan jenjang pendidikan ke tingkat lebih lanjut, sehingga pengetahuan calon mahasiswa terkait sebuah profesi penting diamati untuk mengetahui strategi promosi pendidikan farmasi yang dapat dilakukan. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengamati pengetahuan siswa lulusan SMA terhadap tugas Apoteker diberbagai lingkungan kerja kefarmasian Metode: Studi ini merupakan studi cross sectional dengan metode pengambilan accidental sampling. Total 128 siswa lulusan SMA diberikan kuesioner yang berisi pertanyaan terkait tugas Apoteker diberbagai bidang kerja kefarmasian, selanjutnya hasil kuesioner tersebut dilakukan penilaian terkait tingkat pengetahuan. Hasil: Dari studi ini didapatkan persentase siswa yang memiliki pengetahuan baik terkait perihal yang dipelajari dalam  pendidikan farmasi hanya 37 (28,91%.) responden. Pengetahuan baik tentang pekerjaan kefarmasian yang dilakukan seorang Apoteker paling tinggi adalah dilingkungan kerja pengawasan obat dan makanan yakni sebesar 87 (67,97%) responden, selanjutnya Apotek 85 (66,41%) responden, Rumah Sakit 77 (60,16%) responden  dan Industri 68 (53,12%) responden.  Kesimpulan: Skor pengetahuan siswa lulusan SMA terkait tugas Apoteker tertinggi adalah di area pengawasan obat dan makanan, sedangkan paling rendah di area industri.
Pengaruh Suhu dan Jumlah Penyeduhan terhadap Kadar Kafein Terlarut dalam Produk Teh Hijau Kering dengan Metode KCKT Annuryanti, Febri; Zahroh, Masruratos; Purwanto, Djoko Agus
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.504 KB) | DOI: 10.20473/jfiki.v5i12018.30-35

Abstract

Pendahuluan: Teh adalah salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia dan memiliki khasiat bagi kesehatan. Selain memiliki manfaat, teh juga mengandung kafein yang dapat memberikan efek samping apabila dikonsumsi secara berlebihan. Efek samping yang ditimbulkan diantaranya insomnia, ansietas, takikardia dan napas yang cepat. Oleh karena itu, saat ini diinginkan teh dengan kandungan kafein yang rendah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek suhu dan jumlah penyeduhan terhadap konsentrasi kafein yang terlarut dari sampel kering teh hijau. Metode: Pada studi ini digunakan tiga macam suhu (50°C, 70°C, 100°C) dan tiga kali pengulangan penyeduhan. Kafein terlarut dianalisa dengan menggunakan kondisi KCKT sebagai berikut: kolom C-18-μbondapak, fase gerak metanol : air : asam asetat 2% v/v (30:65:5) dengan laju alir 0,45 mL/menit. Deteksi dilakukan pada panjang gelombang 272 nm. Parameter validasi yang dilakukan meliputi selektifitas, linieritas, akurasi, presisi, LOD dan LOQ. Seluruh parameter validasi memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Hasil: Kadar kafein tertinggi diperoleh pada penyeduhan pertama pada suhu 100oC dan kadar kafein terendah ditemukan pada penyeduhan ketiga pada suhu yang sama. Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa suhu dan jumlah penyeduhan dapat mempengaruhi kadar kafein terlarut pada teh hijau.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol dan Fraksi Etil Asetat Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) dengan Metode Fosfomolibdat Warsi, Warsi; Puspitasari, Gita
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.578 KB) | DOI: 10.20473/jfiki.v4i22017.67-73

Abstract

Pendahuluan: Aktivitas antioksidan ekstrak etanol dan fraksi etil asetat daun kemangi telah diteliti sebelumnya dengan metode 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Pengujian tentang aktivitas antioksidan dengan mekanisme lain perlu dilakukan, diantaranya ialah daya reduksi terhadap fosfomolibdat, untuk pengukuran daya antioksidan total. Suatu senyawa dikatakan aktif sebagai antioksidan apabila positif terhadap berbagai jenis uji yang mekanismenya berbeda-beda. Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) mengandung komponen utama minyak atsiri dengan struktur kimianya yang beragam, senyawa flavonoid dan polifenol yang berpotensi sebagai antioksidan. Perlu dilakukan fraksinasi supaya diperoleh senyawa antioksidan yang lebih spesifik. Tujuan: Penelitian ini berguna untuk mengetahui potensi antioksidan dari ekstrak etanol dan fraksi etil asetat daun kemangi dengan metode fosfomolibdat. Daun kemangi dimaserasi menggunakan etanol 70 %, kemudian difraksinasi dengan etil asetat. Metode: Ekstrak etanol dan fraksi etil asetat dianalisis aktivitas antioksidannya dengan metode daya reduksi fosfomolibdat yang diukur secara spektrofotometri pada λ 695 nm. Potensi antioksidan sampel dinyatakan dalam mg ekuivalen quercetine/g. Hasil: Data yang diperoleh dianalisis secara statistika dengan SPSS 16 pada taraf kepercayaan 95%. Daya antioksidan total ekstrak etanol daun kemangi dengan konsentrasi 1,50; 1,75; 2,00; 2,25; 2,50 dan 2,75 mg/mL berturut-turut ialah 47,292; 54,840; 57,870; 66,640; 77,234 dan 84,754 mgQE/g. Sedangkan daya antioksidan total fraksi etil asetat daun kemangi dengan seri konsentrasi 0,50; 0,65; 0,80; 0,95; 1,10 dan 1,25 mg/mL berturut-turut adalah 44,720; 54,646; 66,936; 73,776; 84,606 dan 94,210 mgQE/g. Kesimpulan: Analisis ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan total fraksi etil asetat lebih tinggi apabila dibandingkan dengan ekstrak etanol daun kemangi.
Uji Kandungan Fenolik Total dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Antioksidan dari Berbagai Bentuk Sediaan Sarang Semut (Myrmecodia pendens) Dhurhania, Crescentiana Emy; Novianto, Agil
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 5, No 2 (2018): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v5i22018.%p

Abstract

Pendahuluan: Senyawa fenolik merupakan kelompok senyawa terbesar yang berperan sebagai antioksidan alami pada tumbuhan. Salah satu tumbuhan yang berpotensi tinggi sebagai antioksidan alami adalah sarang semut (Myrmecodia pendens). Hal tersebut terkait dengan potensinya sebagai sumber senyawa fenolik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji terhadap kandungan fenolik total dari berbagai bentuk sediaan sarang semut dan pengaruhnya terhadap aktivitas antioksidan. Metode: Hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa dalam sediaan seduhan, rebusan, dan ekstrak sarang semut positif mengandung senyawa fenolik, antara lain: flavonoid, tanin dan polifenol. Uji kandungan fenolik total dilakukan dengan metode Folin-Ciocalteu secara spektrofotometri UV-Vis pada 760,5 nm, dengan hasil pada seduhan, rebusan, dan ekstrak berturut-turut 3,64; 3,37; 2,74 g GAE/100 g bahan kering. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan parameter kapasitas reduksi serium secara spektrofotometri UV-Vis pada 317,5 nm. Hasil: Seluruh sediaan sarang semut, yaitu seduhan, rebusan, dan ekstrak memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan EC50secara berturut-turut 6,78; 2,45; 4,00 µg/mL, dengan EC50 pembanding vitamin C 4,1685 µg/mL. Kesimpulan: Dengan demikian untuk mendapatkan kandungan fenolik yang paling tinggi dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat, serbuk kering sarang semut sebaiknya dikonsumsi dalam bentuk seduhan.
Perilaku Pengguna Hijab dalam Mengatasi Masalah Rambut Sari, Dwi Lukita; Indahsari, Yenni Desilia; Umroh, Lukluk Afifatul; Romadlon, Hadi Nur; Agustin, Lisa Tri; Wardanasari, Dias Putri; Septiani, Septiani; Hadi, Rama Syailendra; Shandra, Ni Made Krisantina; Aksandra, Vindia Khendy; Hermansyah, Andi
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 5, No 2 (2018): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v5i22018.93-98

Abstract

Pendahuluan: Salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan rambut adalah penggunaan jilbab. Penggunaan jilbab berpotensi memicu terjadinya masalah rambut jika rambut tidak dirawat dengan benar. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku pengguna jilbab dalam mengatasi permasalahan rambut. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel accidental dan target sampel mahasiswi berjilbab di kampus B Universitas Airlangga Surabaya. Instrumen pengambilan data menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan program SPSS (Statistical Product for Social Sciences). Seratus orang responden berpartisipasi pada penelitian ini. Hasil: Responden dengan usia 18 tahun merupakan responden dengan jumlah terbesar yaitu sebanyak 31% dan mengalami permasalahan rambut paling banyak yaitu rambut rontok. Menariknya sebanyak 55% responden masih jarang untuk menggunakan produk perawatan rambut secara teratur termasuk vitamin dan conditioner. Mayoritas responden tidak mengetahui kandungan produk rambut dan/atau produk antiketombe yang mereka gunakan. Bahkan secara umum, responden tidak mengetahui produk yang benar untuk mengatasi permasalahan rambut. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa responden telah mengetahui cara mengatasi permasalahan rambut namun belum diterapkan dalam tindakan yang rutin dan benar.
Analisis Logam Timbal (Pb) pada Lipstik yang Beredar di Kecamatan Pasar Jambi Martines, Sholeha Annisa; Latief, Madyawati; Rahman, Havizur
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 5, No 2 (2018): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v5i22018.%p

Abstract

Pendahuluan: Lipstik adalah produk kosmetika yang dibuat dari cetak tuang bahan berbasis padatan yang mengandung bahan pewarna terlarut dan/atau tersuspensi yang memenuhi kriteria/persyaratan sebagai pewarna. Sediaan ini mengandung lilin, minyak, dan pewarna sebagai tiga bahan utama dan beberapa bahan tambahan sebagai antioksidan, pengawet, dan parfum. Timbal (Pb) dalam produk kosmetik bisa berasal dari beberapa bahan alami yang mengandung timbal (Pb) (seperti pewarna dan pigmen) atau peralatan yang digunakan selama proses produksi. Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kadar logam timbal (Pb) yang terkandung dalam sediaan lipstik yang beredar di Kecamatan Pasar Jambi. Metode: Metode yang digunakan untuk mengetahui kadar timbal (Pb) yaitu secara kualitatif menggunakan pereaksi warna dan secara kuantitatif menggunakan SSA (Spektrofotometer Serapan Atom). Hasil: Hasil yang diperoleh yaitu dari 10 sampel lipstik yang digunakan positif mengandung logam berat timbal (Pb) ditandai dengan terbentuknya endapan kuning oleh reagen KI. Rata-rata kadar logam berat timbal (Pb) pada lipstik adalah 0,899 µg/g. Kesimpulan: Hal ini menginformasikan bahwa lipstik yang beredar di Kecamatan Pasar Jambi aman jika digunakan oleh masyarakat. Berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh BPOM RI batas kandungan logam berat timbal (Pb) dalam kosmetik yaitu < 20 µg/g.
Motivasi Berhenti Merokok pada Perokok Dewasa Muda Berdasarkan Transtheoretical Model (TTM) Larasati, Esti Rossa; Saraswati, Wita; Setiawan, Henny Utami; Rahma, Silda Sabila; Gianina, Agustina; Estherline, Cindy Alicia; Nurmalasari, Fitri; Annisa, Nauri Nabiela; Septiani, Indah; Nugraheni, Gesnita
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 5, No 2 (2018): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v5i22018.85-92

Abstract

Pendahuluan: Merokok telah diketahui menjadi faktor resiko banyak penyakit dan kematian. Meskipun demikian, terdapat peningkatan prevalensi perokok berusia muda. Intervensi untuk meningkatkan angka berhenti merokok diharapkan efektif dilakukan. Desain intervensi tersebut dapat dipengaruhi oleh seberapa tinggi motivasi berhenti merokok. Tujuan: Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi motivasi seseorang untuk berhenti merokok berdasarkan Transtheoretical Model (TTM), untuk menentukan hubungan faktor demografi dan pengetahuan rokok terhadap motivasi berhenti merokok, dan menemukan faktor-faktor yang membedakan motivasi untuk berhenti merokok. Metode: Penelitian ini dilakukan di sekitar kampus B Universitas Airlangga pada September 2018 menggunakan metode survei, rancangan studi cross-sectional dengan teknik accidental sampling. Responden dalam penelitian ini merupakan perokok berusia 17 - 25 tahun (n = 162). Hasil: Dari hasil analisis data diperoleh bahwa tingkat motivasi tertinggi terdapat pada tahap kontemplasi yaitu sebanyak 38,9% (62 responden). Tahap kontemplasi adalah tahap dimana seseorang masih berstatus sebagai perokok aktif, tetapi sudah berkeinginan untuk berhenti merokok dalam 6 bulan ke depan, sehingga masih memiliki kecenderungan untuk membatalkan keinginan berhenti merokok. Profil demografi, seperti uang saku, jumlah teman merokok dan keberadaan perokok di rumah responden tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat motivasi berhenti merokok. Pengetahuan dan intensitas merokok berpengaruh signifikan terhadap motivasi berhenti merokok. Terdapat korelasi antara pengeluaran untuk merokok dan jumlah batang rokok per hari dengan motivasi berhenti merokok (p = 0,000). Kesimpulan: Promosi kesehatan terkait berhenti merokok yang berfokus di kalangan remaja sangat perlu dilakukan. Intervensi yang dapat dilakukan untuk perokok pada tahap kontemplasi adalah mengadakan penyuluhan tentang bahaya merokok dan pemberian informasi adanya NRT (Nicotine Replacement Therapy).
Pendapat dan Pengalaman Peserta Pusat Kebugaran di Surabaya tentang Healthy Weight Management Firdaus, Aulia Intan; Prahesthi, Radika Ayu; Lestari, Safira Indah; Karunia, Ulfi Adianti; Deen, Ali Nur Ad; Pintowantoro, Darwinda; Mandaoni, Vely; Augusta, Clara Tissa; Siregar, Sonia Marthalia; Sholihah, Lailya Nissa’us; Adisty, Mutiara
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 5, No 2 (2018): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v5i22018.76-84

Abstract

Pendahuluan: Obesitas menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka kematian di dunia. Sebanyak 1,9 milyar orang dewasa dengan usia lebih dari 18 tahun mengalami overweight dimana 650 juta diantaranya mengalami obesitas. Gaya hidup dan aktivitas fisik merupakan faktor yang dapat mempengaruhi berat badan seseorang, apoteker merupakan tenaga kesehatan yang mudah diakses dan memiliki pengetahuan tentang gaya hidup, obat, dan penyakit, sehingga berpotensi memberikan peran dalam healthy weight management. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapat dan pengalaman masyarakat tentang healthy weight management yang ada di beberapa pusat kebugaran di Surabaya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan metode cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling pada 116 orang menjadi responden dengan kriteria inklusi masyarakat yang berusia di atas 18 tahun dan pengguna jasa pusat kebugaran. Penelitian dilakukan menggunakan kuesioner yang dianalisa secara deskriptif dengan bantuan Software Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan bahwa responden memiliki pengetahuan dan pengalaman yang bervariasi tentang healthy weight management. Kesimpulan: Sebagian responden juga berpendapat bahwa apoteker dianggap dapat berperan dalam healthy weight management meskipun saat ini peran apoteker di Indonesia khususnya di Surabaya belum banyak terlihat pada program healthy weight management di apotek-apotek.
Pengaruh Lama Pemberian Fondaparinux terhadap Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) pada Pasien Sindroma Koroner Akut Puspitasari, Arina Dery; Suharjono, Suharjono; Yogiarto, Yogiarto
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 5, No 2 (2018): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfiki.v5i22018.99-106

Abstract

Pendahuluan: Fondaparinux 2,5 mg sebagai terapi antikoagulan pada pasien Sindroma Koroner Akut (SKA) di RSUD Dr. Soetomo Surabaya diberikan selama 5 hari, sedangkan pustaka menyebutkan bahwa fondaparinux diberikan selama 3 - 7 hari. Kadar steady-state dapat dicapai setelah 3 - 4 hari dan efek antikoagulan dari fondaparinux dapat bertahan selama 2 - 4 hari setelah terapi dihentikan pada pasien dengan fungsi ginjal normal. Diperlukan penelitian untuk mengetahui pengaruh lama pemberian fondaparinux 2,5 mg subcutan sekali sehari pada hari ke-3, 4, dan 5 terhadap Activated Partial Thromboplastin Time (APTT). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan pemberian fondaparinux terhadap nilai APTT pada penderita SKA. Metode: Sampel penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosis SKA yang diberikan terapi fondaparinux di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancang bangun prospektif kohort. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah rekam medis pasien dan hasil rekam pengukuran nilai APTT. Data demografi pasien dan nilai APTT dianalisis secara deskriptif dan One Way Anova digunakan untuk mengetahui perbedaan antara masing-masing kelompok terhadap lama pemberian fondaparinux terhadap APTT. Hasil: Penggunaan fondaparinux meningkatkan nilai rata-rata APTT dan mencapai target (25 - 40 detik) pada 9 orang pasien selama 3 hari (39,39 ± 8,02 detik), 4 hari (39,98 ± 12,15 detik), dan 5 hari (40,06 ± 6,21 detik). Tidak ada perbedaan bermakna antara APTT dengan lama pemberian fondaparinux 2,5 mg subcutan sekali sehari selama 3, 4, dan 5 hari (p > 0,05). Kesimpulan: Lama pemberian fondaparinux pada hari ke-3, 4, dan 5 tidak berbeda bermakna dalam meningkatkan nilai APTT.